Tuesday, November 12, 2013

Tak Ada Kata Untuk Papa

Ayah..Papa..

Dua kata itu, terasa berbeda di pemikiranku beberapa belas tahun belakangan ini. 
Semenjak Mama berpulang, otomatis aku hanya tinggal berdua dengan Papa. Dan karena aku 'anak papa' sedari kecil, aku berpikir semua akan baik-baik saja.

Ternyata tidak....

Karena jarang bertemu, pada awalnya aku kesulitan dalam berkomunikasi. Sifat kami berdua terlalu mirip. Aku pun tersadar, bahwa jembatan antara aku dan Papa adalah Mama. Ketika Mama tak ada, kami ibarat dua pulau yang bersisian namun tak pernah menyatu. Tak ayal kami bertengkar tentang hal-hal sepele, semacam baju yang tak kunjung diganti, atau rebutan mengisi bensin. Maksudnya, sama-sama nunggu bensin ada yang ngisiin biar tinggal make.
Ya begitulah kami Ayah dan anak...

Selayaknya anak remaja, aku pun mengalami hal-hal 'khas masa remaja'. Ketika anak lain dengan mudah cerita ke ibunya mengenai model baju yang sedang trend, atau cekikikan ngeliatin cowok ganteng di televisi. Aku cuma bisa mengedikkan bahu kemudian berlalu. Ketika teman-temanku mulai menggunakan kosmetik dan sebangsanya, aku bisa dengan cueknya memakai kaos dan celana jeans kemana-mana.

Cerita Mama cerewet, yang pasti kujamin cerewet if you know my mom, tidaklah terjadi.

Kencan pertama, ciuman pertama, kehebohan kelulusan SMU, penerimaan mahasiswa baru, masa orientasi, semua kulalui begitu saja. Hang out bersama dengan teman - temanku sampai dengan belajar mengurus rumah. Semua berjalan apa adanya.

Memasuki masa kuliah, kesibukan masa kuliah makin membuatku semakin jauh dengan Papa. Walaupun sama-sama di rumah, kami jarang berkomunikasi. Dia sibuk dalam dunianya, dan aku sibuk dengan duniaku. Kami menenggelamkan diri, sama-sama berupaya untuk menghindari kerinduan akan sosok kenangan, Mamaku.

Hingga puncaknya adalah aku bertengkar hebat dengan Papa.
Saat itu terlontar keras dari mulutku, "Nana kangen Mama!!!"

Aku ingat, saat itu Papa hanya terdiam. Tubuhnya seperti membeku.
Dan selintas, aku melihat kilauan di matanya. 

Saat itu aku tahu, bahwa perasaan kami sama. Saat itu aku tahu, bahwa tinggal kami berdua di dunia ini. Mama bukan hanya meninggalkanku, Mama juga meninggalkan Papa. Kami sama-sama tersesat dan tak tahu jalan pulang.

Dan waktupun berlalu.
Kami berdua menemui dan mengalami banyak hal. Naik turunnya kehidupan. Dari yang teratas hingga yang terbawah, semua itu kami lalui bersama. Aku dan Papa.
Namun satu hal yang pasti, seburuk-buruknya hal yang kami lalui, aku tahu bahwa aku tak akan pernah bisa meninggalkan Papa.

Papaku bukan orang yang sempurna. 
Seiring bertambahnya umurku, aku mulai melihat bahwa Papa adalah manusia, yang bisa melakukan kesalahan, yang bisa berharap, kecewa, dan terjatuh.

Sebagai manusia dewasa, aku berusaha memahami. Sebagai seorang anak, aku belajar memaafkan.

Dan teringatlah aku dengan sekelumit cerita saat kukecil. 

Saat itu aku menangis karena Mama pergi keluar kota dan dirumah tidak ada makanan.
Papa yang baru pulang kerja kebingungan. Kemudian digendongnya aku sambil berkata,

"Udah dong nangisnya. Kita beli es krim yuk di depan perum!"

Masih terisak aku menjawab, "Tapi kata Mama kan ga boleh, nanti batuk"

"Gapapa, hari ini spesial. Jadi boleh. Tapi jangan bilang Mama ya!"

Aku mengangguk senang, dan pergilah kami berdua membeli es krim.

Papa, kali ini giliranku membelikanmu es krim.
Tapi jangan bilang Mama ya!

***

No comments: