Sunday, October 13, 2013

6 Oktober 2013



Sorot mata jenaka terpampang di lembaran foto lama. Tersenyumku memandangnya. Kuletakkan kembali ke meja. Aku bergegas, waktu telah menunjukkan 06.30 pagi. Harus segera berangkat . Hari ini hari bersejarah.

Setelah berganti beberapa kali menggunakan transportasi umum, sampailah juga di Kawasan Ancol. Bersama dengan beberapa orang lain, aku turun di kawasan Ancol. Pandangan mata beralih ke orang-orang yang ada di sekitarku. Kami langsung tersenyum, ada kebersamaan hangat yang merekah, kami disana untuk tujuan yang sama. Ada yang berasal dari Bandung, Purwokerto, bahkan Solo. Tekad mereka hanya satu, untuk turun tangan. Benaar, untuk melakukan sesuatu dan bukan hanya berpangku tangan. Kala linimasa dan media dipenuhi berita-berita negatif, keluhan, pesimisme, disini aku bertemu dengan orang-orang yang mempunyai keberanian dan kemauan untuk DO SOMETHING POSITIVE. 

Aku menghormati mereka lebih dari pada orang-orang yang sibuk membuat analisis, kritik pedas, dan demo-demo di jalanan.
No offense, but hey, we are doing something for good sake.
Pagi masih awal, tetapi sudah banyak orang berkumpul di meja pendaftaran. Masih 2 jam sebelum pintu dibuka, wajah-wajah bersemangat terlihat disana sini. Raut ramah dan bahagia. Aku tersenyum kecil. Kami semua disini untuk bekerja, tapi mengapa perasaan kami begitu ringan?

Setelah pintu dibuka, kami diarahkan masuk ke sebuah ruangan untuk diberikan orientasi dasar. Sekilas kulihat kelompokku. Beragam sekali, ada yang membawa anak-anaknya, ada yang terlihat seperti pelajar SMP. Mereka semua rela datang jauh-jauh ke Ancol dan menghabiskan waktu libur mereka untuk bekerja. Iya bekerja, karena memang namanya adalah Kerja Bakti.




***

Jadi ingat, pertama kali tahu tentang event ini adalah dari balasan tweet-ku tentang kelas inspirasi oleh @babung, seorang teman di WWF dan mas @IsrarArdiansyah yang kukenal dari salah satu acara WWF.  Setelah diberi link website Festival Gerakan Indonesia Mengajar (FGIM) dan membaca isinya, aku pun menjadi semakin tertarik dan langsung mendaftar. Lanjut tidak lupa woro-woro di social media, supaya temen-teman yang lain ikutan. Eh ada yang nyaut. Ternyata temanku (@seoulaja) menjadi salah satu panitia relawan dalam acara itu. Segera dimasukkannyalah diriku dalam salah satu fanpage facebook FGIM.

Wow! 

Betapa besar semangat teman-teman semua yang ada disana. Membaca posting wall yang ada, rasanya makin tak sabar menunggu hari-H tiba. Sudah sangat lama sejak terakhir aku melihat semangat seperti itu, rasanya seperti menemukan sumber air di tengah padang pasir.

Dan benarlah, pada saat awal aku menapaki tangga menuju ruang Kerja Bakti, semangat, antusiasme dari teman-teman panitia sangat terasa, padahal aku tau, mereka pasti bekerja sangat keras untuk mempersiapkan semua. Mulai dari perancangan program, persiapan peralatan, perekrutan peserta, penataan ruangan, penyusunan agenda, pengumpulan materi dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini tentunya tidak bisa terjadi jika mereka yang terlibat tidak memiliki semangat dan kepercayaan yang besar terhadap keberhasilan acara ini. Dan ini dilakukan oleh mereka yang notabene memiliki pekerjaan lain, dengan waktu 9 to 5, dan berada di Jakarta! Kebayang bagaimana membagi waktu antara pekerjaan, waktu (macet Jakarta tampaknya kalah telah sama semangatnya), serta kondisi tubuh yang dituntut fit sepanjang waktu. 

Seperti yang pernah aku dengar (atau aku baca)

“Apalah lautan selain sekumpulan titik-titik air”

Kata-kata itu sejatinya sungguhlah benar. Perubahan tidak dapat dimulai hanya dengan satu orang, namun bersama-sama, menularkan semangat, menularkan energi, untuk melakukan sesuatu. Berdasarkan niat ketulusan, melakukan perubahan untuk masa depan.

Bukan hanya bicara, kami beraksi. Walau mungkin hanya sesuatu yang kecil, seperti membuat beberapa set alat bantu belajar untuk para Pengajar Muda di Kotak Sains, atau menuliskan Surat Semangat untuk para siswa dan pengajar, ataupun menulis Kartupedia sebagai bentuk ensiklopedia  mini, aku pikir ini lebih baik dari sekedar wacana atau kata-kata.




Kembali teringat kepada mereka, rumahku, disuatu saat yang lampau. Tiga sorot mata jenaka, menantang dunia.  Sama seperti dulu, sebenarnya bukan anak-anak itu saja yang mendapatkan bantuan seperangkat alat peraga, ataupun sepucuk surat ataupun sekotak kartu. 
Namun sesungguhnya, akulah yang mendapatkan suntikan semangat, inspirasi dan keberanian untuk membuat perubahan. Memulai sesuatu yang selama ini hanya stuck di angan pemikiranku saja. 
Terimakasih Festival Gerakan Indonesia Mengajar. Kau telah membawa rumahku kembali.



Jakarta, 13 Oktober 2013.