Sunday, May 24, 2009

You'll be in my heart


Kududuk bersandar di dinding. Hari itu tengah hari yang panas, namun entah kenapa hatiku terasa dingin. Satu tanganku memegang Nokia N-gage dan mulai mengutak-utik tombolnya. Kamu sedang duduk bersila disana, tak jauh dari sisiku. Sibuk menatap ke layar komputer. Kutekan tombol play, dan mengalunlah sebuah melodi lagu....


For one so small you seem so strong
My hand will hold you keep you safe and warm
This bond between us cant be broken
I will be here dont you cry


Tak terasa air mataku menetes. Tak kusadari, kau sudah ada disampingku. Aku menangis karena teringat mendiang ibuku, dan kaupun ikut menangis, entah karena apa.
Sambil diiringi melodi lagu, berdua kita bersandaran dan saling berpegangan tangan. Lagu itu terus saja berulang, suara lembut Glenn Close menyanyikan lagu yang seakan berasal dari lubuk hatiku. Tak ada kata yang terucap antara kita berdua, hanya lagu yang memenuhi seluruh ruangan.

Setelah kurasa cukup, kumatikan lagu itu. Kuusap air mataku dan kupandang dirimu yang berada tepat di depan mataku. Kau menatapku dengan mata beningmu. Dan berdua kita tersenyum.
Kau kembali sibuk di depan komputer, dan aku kembali bersandar. Namun kali ini, hatiku terasa hangat.

Sembilan tahun berlalu semenjak hari itu, dan rasa itu selalu kuingat. Aku tak tahu dimana kau berada kini. Tapi setiap kali aku mendengar melodi itu, pikiranku kembali ke saat itu. Dan kembali kau hadir, dengan sepasang mata beningmu.

We’ve been through a lot
And seems the word friends has left us by
Where ever you are now
I just want you to know
That I will always remembering you

Dedicated for: my arale
Soundtrack: OST Tarzan - You’ll be in my heart by Glenn Close & Phil Collins

Susah ga susah tetep....


Jaman lagi susah. Hmmm...apa iya siy?

Ada yang mengangguk setuju, tapi gak sedikit yang bilang. Ah biasa aja tuh!
Memang, akhir-akhir ini topik yang memprihatinkan (bagi saya pribadi) banyak muncul di headline media komunikasi. Mulai dari koran, berita TV sampai infotainment.
Dari dampak resesi global sampai proses pemilu presiden. Kayaknya kok tidak bisa dibilang berjalan mulus.

Setiap orang bisa memilih sudut pandang masing-masing. Jika dilihat dari kacamata orang yang mendapat pemberitahuan mendadak dari perusahaan bahwa dirinya sekarang mendapat PHK, well...jaman emang susah sodara-sodara. Tapi kalo dilihat dari para remaja yang membawa 'BB' ke sekolah, ya hidup indah-indah aja (tergantung siy, kalo dilihat dari ribetnya peraturan sekolah yang ngelarang ini itu apa ortu yang cerewet, my life miserable! )

Memang sih, definisi 'susah' itu relatif, sekali lagi, tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Ada yang hidupnya pas-pasan, bahkan buat makan aja gak bisa setiap hari, tapi merasa bahwa hidupnya bahagia dan tidak kekurangan apapun. Ada juga yang uangnya bertumpuk-tumpuk sampai tujuh turunan gak abis-abis, tapi merasa hidupnya penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan.

Aku jadi teringat suatu peristiwa. Saat itu saya sedang menunggu seorang kawan di food court sebuah mall di Jakarta. Waktu itu hari minggu, jadi suasananya ramai sekali. Hampir saja saya gak bisa dapet tempat duduk. Karena gak enak kalo cuma duduk aja, kepaksa deh saya beli minuman dan makanan kecil -demi- supaya gak diusir.
Di depan saya duduk seorang ibu muda dengan 2 anak kecil, kira-kira berumur 5 dan 7 tahun. Di meja lain, dekat dengan mereka, duduk seorang wanita muda. Melihat seragamnya saya berasumsi dia adalah penjaga anak-anak itu.

Sebetulnya, saya tipe orang cuek. Namun saat itu, mungkin karena bosan menunggu atau juga karena penghuni meja epan saya itu ribut sekali, mau tidak mau perhatian saya tertuju pada mereka.
Saya melihat, hanya dengan dua orang dewasa, pesanan makanan mereka cukup banyak. Sampai-sampai meja mereka tidak ada tempat kosong lagi. Setelah beberapa saat , mereka pergi. namun ada hal yang membuat saya terkejut, makanan mereka hampir-hampir tak tersentuh!
Mungkin hanya dimakan sesendok dua sendok, tapi selebihnya dibiarkan saja atau hanya diacak-acak.

Sebagai anak kos dengan gaji pas-pasan, hal itu otomatis menarik minat saya. Hati saya agak miris, mengingat jumlah makanan itu cukup banyak (kalau saya bungkus bisa buat makan temen-temen satu kos) Belum lagi harganya yang cukup mahal.

Ketika teman saya datang, saya ceritakan hal itu padanya. Tanggapannya cukup membuat saya terkejut, dia bilang: Lho, mereka kan sudah bayar, jadi gak masalah donk?
Wow...ternyata ada juga jalan pemikiran seperti itu. Asalkan mampu membeli, mereka berhak melakukan apa saja. Kasarannya, duit duit gue,terserah donk mau gue apain!

Saya jadi membayangkan, andaikata 'sisa' makanan itu diberikan kepada seorang kuli panggul di pelabuhan, pastilah makanan itu dapat memberikan tenaga yang cukup untuknya. Itupun masih ada sisa untuk dibawa pulang untuk keluarganya yang menanti di rumah.

Atau jika uang yang digunakan untuk membeli makanan itu diberikan pada seorang anak jalanan, mungkin dia dapat menabung untuk masa depannya.

Yeah...saya ga akan membuat demo untuk menuntut adanya satpammakanan di setiap gerai food court. Tapi setidaknya saya dapat memastikan bahwa orang yang makan bersama saya tidak menyia-nyiakan makanan yang dibelinya. Bagi saya pribadi, setiap makanan itu berkat. Dan bagi saya, alangkah berdosanya jika saya menyia-nyiakan berkat yang saya terima jika orang lain harus berjuang untuk mendapatkannya.

So kesimpulannya, jaman memang lagi susah. Susah untuk kesusahan yang ada, atau susah untuk merasakan susah? Nah loh, makin dipikir kok makin susah ya??


Tuesday, May 5, 2009

Once upon a time


Dulu pernah ada suatu cerita yang kudengar.
Ada seekor ulat yang selalu menggerutu. Ketika dia melihat seekor kijang melintas, dia berkata,

" Mengapa aku begitu malang, kuberjalan begitu lambat. Beruntungnya kijang itu dapat berlari sedemikian kencang"

Ulat itu merambat lagi, dan dia melihat seekor merak.Kemudian dia berkata,

" Mengapa aku begitu malang, tubuhku begitu buruk dan tak menarik. Beruntungnya merak itu dapat berwujud sedemikian menarik dan indah"

Ketika ulat itu mengadahkan kepalanya, dan dia melihat seekor burung terbang di angkasa.
Ulat itu kembali berkata,

" Mengapa aku begitu malang, aku hanya dapat melata, berharap tak terinjak dan mati. Beruntungnya burung itu, dapat terbang demikian tinggi"

Akhirnya ulat itu sampai ke sebuah dahan. Dia merasa sangat lelah dan dingin. Dibungkus tubuhnya dengan selimut tebal, dan diapun mulai tertidur.

Beberapa hari kemudian, ulat itu pun terbangun. Dia terkejut mendapati sekelilingnya begitu gelap. Belum lagi sempit yang terasa, ulat itu nyaris tak dapat bergerak. Merasa tak tahan dengan keadaannya, dia pun mulai menangis.

Tiba-tiba terdengar suara yang berkata,
" Mengapa kau menangis? Cepatlah keluar, kau bisa mati jika terus di dalam!"

Rupanya itu suara kancil yang kebetulan lewat.
Si ulat merasa jengkel,
" Kamu tidak lihat apa? Aku terperangkap disini. Lagian ini sepertinya tempat yang tinggi. Kalau aku keluar aku bisa jatuh dan mati. Jangan seenaknya bicara! "

Kancil itu tertawa,
" Kau tidak akan jatuh kupu-kupu bodoh, kau kan bisa terbang"

Ulat itu tertegun sejenak, kemudian dengan marah dia berkata,

" Hey, aku ini ulat bukan kupu-kupu! "

Hari-hari berlalu, si Kancil kembali ke tempat itu. Dan dia melihat seekor kupu-kupu, mati dialam sebuah kepompong yang dibuatnya sendiri.



Monday, April 20, 2009

3 chair and a cup of coffee



Secangkir kopi terletak di atas meja. Uapnya mengepul, melebur dengan udara. 
Meja itupun sederhana saja, bulat dengan lapisan kaca hitam diatasnya. 
Tiga buah kursi mengelilinginya, tiga wujud yang berbeda. 
Tiga buah kursi dengan satu cangkir kopi. 
Kopi hitam dan pekat, persis seperti biasanya.
Tiga buah kursi dan satu cangkir kopi. Dalam jalinan benang laba-laba. Kasat mata namun ada, rapi terangkai di dalam hati.

Kursi pertama dipenuhi oleh buku dan segala macam teori. Keluh kesah kadang terdengar disana, bahkan teriakan frustasi. Kedua kursi lainnya maklum. Karena itulah jalan yang dipilihnya. Suka ataupun tidak, betapapun sulitnya, itulah yang harus dijalaninya hingga akhir.

Kursi kedua baru saja menciptakan dunianya. Dimana kekelaman tinggal dan kehampaan ada. Dunia yang sepi. Kekuatannya telah hilang dan dia hanya termenung sendiri, tenggelam dalam dunianya. Kedua kursi lainnya bergeming, meskipun didalam batin. Mereka menghormati dunia itu, dunia yang tak tersentuh dan terjamah. Walau tangan mereka menggapai, agar ia tahu bahwa mereka selalu ada.

Kursi ketiga melagukan musik yang lembut. Petikan gitar mengalun. Nada-nada indah menentramkan hati. Kedua kursi lainnya terdiam. Tak ada kata yang perlu terucap. Tak ada tindakan yang perlu dilakukan. Karena pemahaman tidak hanya melalui kata dan perbuatan, namun terutama melalui hati.

Tiga buah kursi dengan tiga wujud berbeda. 
Tiga buah kursi dan satu cangkir kopi. 
Isinya sudah tandas sekarang. 
Hanya aroma harum yang masih tercium. 
Dan rasa hangat yang terasa.

spot : cold bedroom (socalledhouse)
time: in the middle of the night after having turmoil inside her heart
soundtrack : tak ada yang abadi by peterpan
topic : i know just as you know that our heart will be still

Thursday, April 16, 2009

is it possible...


We may never know what might happens
We may not prepare for anything that comes to our way
We may seems to be a loser and disguised
We may not understand why our plan didn’t work out as it supposed to be

But…

We know that we will survive
We know that we make it through somehow
We know that we have to keep trying
And we know that we can only dream and put everything to it




Possible only proved when we break the impossible








Wednesday, April 15, 2009

Fatamorgana


Pernahkah engkau ragu, begitu ragu sehingga kau memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa.
Saat ini aku mengalami itu. Ragu akan adanya hal di depanku, apakah nyata atau hanya khayalanku semata. Adakah itu yang sebenarnya ada, atau karena keinginanku dia menjadi apa yang ada.


Sebuah fatamorgana, keindahan yang menipu.

Aku baru menyadari, seringkali kuberbuat itu. Karena terlalu pahit melihat kenyataan, aku pun menciptakan fatamorgana. Sesuatu yang semu, namun sangat memikat.
Dan saat ini aku takut, apakah aku kembali melakukan hal yang sama.

Aku meragukannya, namun sangat ingin mempercayainya. Aku yang menciptakan keadaan ini, namun justru terperangkap dalam permainanku sendiri.

Kata-kata yang tak sanggup kukatakan, pertanyaan yang tak sanggup kutanyakan.
Namun saat ini, aku justru tak sanggup lagi menahannya.

Satu pertanyaan, yang perlu kutanyakan tanpa ingin kudengar jawabnya



“Adakah engkau sungguh mencintaiku ataukah terpaksa mencintaiku?”





Woman's Heart

Do you know secrets of a woman’s heart?
What I’m about to tell you is a secret that lies in every woman’s heart
Once you know it, it helps you to understand them
And to love them




Yang pertama adalah sentuhan
Setiap wanita sangat menghargai sentuhan
Dekapan lembut
Pelukan hangat
Tepukan di punggung
Kecupan di kening
Usapan di wajah
Suatu peringatan yang lembut
Untuk mengingatkan hatinya yang sepi bahwa ia tidak sendiri

Yang kedua adalah pujian
Setiap wanita ingin merasa bahwa dirinya adalah satu-satunya
Tak tergantikan
Bahwa dia istimewa dan tak ada duanya
Ketika dia sedang bekerja
Ketika dia sedang tertawa
Ketika dia sedang merasa lelah
Ketika dia merasa hancur dan ditinggalkan
Dia ingin percaya bahwa dia istimewa
Bahwa dia adalah mahluk terindah yang pernah diciptakan
Dia sangat ingin mempercayainya

Yang ketiga adalah tawa dan kegembiraan
Betapa sulitnya kehidupan yang ia jalani
Setiap wanita ingin membuat sekelilingnya penuh dengan
kegembiraan
Tawa yang riang
Tarian yang indah
Nyanyian yang merdu
Segala sesuatu yang dapat mengingatkannya atas keindahan
Atas dirinya yang tersembunyi


Yang terakhir adalah cinta
Setiap wanita ingin merasakan dicintai
Cinta yang tak bersyarat
Yang tak mengharuskannya menjadi sesuatu yang berbeda
Tidak untuk berpenampilan seperti model dan bintang film
tubuh dan wajah sempurna
dengan balutan kain dan risasan wajah maha indah
Tidak untuk menjadi pelayan
tanpa keinginan dan hanya kepatuhan
Tidak untuk menjadi pajangan
sesuatu yang akan ditinggalkan ketika ada yang lebih indah
Mereka ingin dicintai apa adanya
Sebagaimana mereka
Tanpa merasa takut dan tanpa merasa ragu

Wanita tidak mencari pria romantis, pahlawan yang akan menyelamatkan hidupnya, seseorang yang sempurna
Hati seorang wanita mendambakan perasaan terlindungi, perasaan disayangi, perasaan istimewa.
Dimana dia dapat dengan bebas menjadi dirinya sendiri, menyebarkan cinta kasih dengan caranya yang unik
Dimana dia merasa aman untuk meletakkan mimpi dan harapannya
Dimana dia dapat merasa bahwa dia memiliki tempat untuk meletakkan hatinya





Woman as they say, might have undefined heart
Woman as they say, might have tears and fragile
Woman as they say, might have unreasonable act
But woman as I know, could give you their buried treasure
Once you know how to unlocked it




live and what its driven us


Ada seorang anak bertanya pada ibunya,
“Ibu, bagaimanakah cara menjadi orang baik?”
Ibu itu kemudian berjalan kearah pintu, lalu berkata,
“Ayo, kita jalan-jalan keluar sebentar”

Di sebelah rumah ibu itu menyapa tetangga mereka, mereka pun membalas menyapa.
Kemudian, setelah berjalan lagi ada seorang nenek kesulitan menyeberang, ibu itu membantunya sehingga dapat menyeberang dengan selamat.
Akhirnya sampailah mereka di sebuah kedai, ibu itu membeli dua buah es krim, satu untuknya dan satu untuk anaknya.
Kemudian mereka berjalan pulang.

Ditengah perjalanan karena tidak hati-hati, eskrim milik si anak terjatuh.
Melihat itu, sang ibu memberikan eskrim bagiannya kepada si anak.

Sesampainya di rumah, ibu itu bertanya pada anaknya.
“Anakku, sepanjang perjalanan tadi, apa yang dapat kau pelajari mengenai kebaikan?
Anak itu berpikir sejenak, kemudian menjawab,
“ Ibu menyapa tetangga kita, dan mereka tampaknya senang, kukira itu kebaikan”
Ibu itu tersenyum, “Ada yang lain?”
“Ketika ibu menyeberangkan nenek itu, pasti itu kebaikan, tidak ada orang jahat yang akan susah payah menyeberangkan orang seperti tadi”, jawab anak itu dengan penuh semangat.
Ibu itu tertawa, “ Baiklah, apa ada lagi?”

“Oiya, ketika ibu memberikan eskrim padaku, itu sangat baik. Aku sangat suka eskrim” kata anak itu penuh keyakinan.

Ibu itu tersenyum lembut,
“Benar anakku, itu semua tindakan baik. Tapi ada satu hal yang ingin ibu katakan padamu, tindakan baik belum tentu menjadikan kita orang baik.”
"Ibu dapat saja menyapa hanya karena ibu merasa itu adalah kewajiban ibu menjalankan aturan dalam masyarakat, dan ibu tidak mau dianggap orang yang tidak sopan"
"Ibu dapat saja berpura-pura tidak melihat nenek itu, karena toh tidak ada yang akan menyalahkan ibu jika ibu tidak melakukan apa-apa"
" Dan ibu dapat saja memberikan eskrim ibu padamu ketika punyamu jatuh, semata-mata karena tidak mau kau menangis dan membuat ibu repot"


Kebaikan sesungguhnya berasal dari hati


"Maka lakukan segala sesuatu dengan tulus dan sungguh-sungguh, ketika kau sedang bersama dengan orang lain ataupun pada dirimu sendiri”
“Sejujurnya, tidak ada orang baik hanya orang yang berusaha menjadi lebih baik lagi dari apa yang sudah ada.”
“Teruslah berusaha menjadi orang yang lebih baik, maka niscaya kau akan dapat menjadi orang baik”


Penampilan bisa lahir dari kepalsuan, semata-mata untuk menjalani norma etika dan sebuah kebiasaan.
Perbuatan bisa menipu, jikalau kita merasa terpaksa.
Pengorbanan bisa melahirkan pamrih, agar suatu saat kita dapat diperlakukan sama.
Manusia tidak ada yang sempurna, melakukan berbagai kesalahan.
Penyesalan dan keraguan, berjalan tanpa tahu arah.
Jatuh bangun, melukai dilukai, kehilangan menemukan.
Manusia dan cerita kehidupannya, akan selalu sama sepanjang jaman.
Yang membedakan adalah, reaksi pribadi terhadap apa yang dihadapinya.

Di tengah dunia dengan segala keduniawiannya, sebuah kasih terasa sangat naïf dan munafik. Namun di atas segala kemunafikan itu, sebuah ungkapan kasih yang tulus dapat menjadi kekuatan yang tak terbatas.



Dapat memberi tanpa kehilangan, kuat tanpa menjadi keras, dan lembut tanpa menjadi rapuh, itulah kasih menurutku.


Tulisan yang tersurat ini, tidak bermaksud menggurui apa pun.

Kehidupan kita adalah guru kita, setiap insan memiliki pelajarannya sendiri-sendiri.
Ini adalah curahan hati seorang manusia, yang sedang belajar, berusaha memahami, dan menjadi seseorang yang lebih baik.



Tuesday, March 31, 2009

a long poetry in the night

Jiwaku kelam terdampar
Gelap dunia terhampar
Menanti seberkas sinar
Seluruh alam berkelakar
Gemuruh kudengar

Hitam kelam
Dimanakah setitik terang
Sejauh mata memandang
Hanya hampa terbentang
Berdiri sunyi di tengah padang

Gersang kering tanah bumi
Terpaku terpijak terasa sesak
Lari dan terus berlari
Mencari sesuatu yang tak berderak
Sudahlah habis nafas ini

Dimanakah cahaya rembulan
Dimanakah embun pagi
Dimanakah sinar mentari
Dimanakah ufuk senja
Dimanakah ujung yang kucari
Aku sudah merasa lelah

Awan teguh berarak di angkasa
Tengadah aku memandang
Dengan cepat warna berganti
Dan kuterbaring
Rebah dan menggigil

Kau dan aku tak terpahami
Berharap tuk peduli
Pikiran terselubung misteri
Tuli sudah atas ego diri
Lubuk hati yang tersakiti

Kuberteriak mengapa kau tak mendengar
Kumenangis mengapa kau tak peduli
Kubertahan dan mencoba memahami
Maafkan aku yang tak mampu

Kuhirup nafas merangkum semesta
Air mataku telah lama mengering
Langit menangis menggantikanku
Basah menyirami sekujur tubuhku
Kupejamkan mataku
Berharap semua kan sirna

Dimanakah tempat yang kutuju
Adakah engkau tercipta
Adakah engkau ada
Apakah aku yang mencipta
Mampukah tangan lemah ini
Menggapaimu

Kelam hitam duniaku
Sunyi sepi kering dan gersang
Adakah engkau rela memasukinya
Terperangkap di dalamnya
Dimana tak ada yang abadi
Dalam sekejap mata akan terganti

Mampukah kau bertahan
Di dalam dunia kelamku
Mampukah kau memelukku
Yang penuh dengan onak duri

garengpung

Hari ini terasa panas sekali. Diluar terdengar bunyi gareng berkeriap-keriap, suara yang sangat menyejukkan hati.
Aku pernah bertanya pada papaku, suara itu dari mana? Maklum aku tinggal di daerah perkotaan, dan seingatku, selama 13 tahun aku tinggal di rumah ini, belum pernah aku mendengar suara itu sebelumnya.
Kata papa, itu suara gareng, binatang kecil seperti jangkrik yang biasa tinggal di pepohonan. Biasanya, jika suara itu muncul berarti pertanda akhir musim penghujan.
Karena belum pernah melihat wujud gareng sebelumnya, penjelasan papa tadi kuiyakan saja. Toh, bukan wujudnya yang menarikku tapi suaranya.

Kini setiap pagi, dengan setia aku mendengarkan suara gareng. Sebagai ‘pengacara’ alias pengangguran banyak acara, bukan hal yang sulit untuk mencuri waktu 15 menit hanya untuk melamun sambil mendengarkan.
Agaknya memang benar musim penghujan sudah berakhir, buktinya aku tidak perlu lagi bolak-balik mengangkat jemuran gara-gara hujan. Melegakan juga, karena sudah pasti pakaianku langsung kering setelah dicuci, tidak seperti minggu-minggu lalu yang bisa 3 sampai 4 hari. Itu saja belum kering benar dan kuangkat semata-mata supaya tempat jemurannya bisa kuakai lagi untuk cucian baru. Tapi sejujurnya...aku kangen sekali dengan musim hujan....

Dari segala musim, musim penghujan lah yang paling aku sukai. Mungkin karena auranya yang sendu atau karena hawanya yang dingin, atau karena tetasan airnya, yang dulu ketika aku kecil kukira adalah tetesan mata para malaikat....entahlah, aku tidak punya alasan yang jelas. Yang pasti aku suka dengan musim itu. Paling menyenangkan saat musim hujan adalah membuat secangkir soklat susu hangat, membaca buku, sambil ditemani rintik hujan dan hawa dingin. Atau bisa saja bermain air di tengah hujan, mencium bau tanah basah, melihat betapa segarnya dunia setelah seharian tersiram air hujan.
Memang tidak semua mengnai hujan menyenangkan. Selain soal jemuran tadi, pulang malam sambil kehujanan sangat tidak dianjurkan. Apalagi kalu misalnya tinggal di daerah rawan banjir. Bisa siang malam khawatir dan turunnya hujan bukan suatu kenikmatan lagi melainkan petaka.
Namun, diatas semua itu. Musim hujan tetap saja musim favoritku. Dan menyadarinya pergi, membuatku sedikit sedih.

Suara gareng kembali menyadarkanku...suara indah yang menandai berlalunya hal yang kusayangi...
Betapa ironisnya suara yang kusukai mengabariku bahwa masa kesayanganku sudah berlalu...
Mungkin akan selalu ada musim-musim penghujan lain yang akan kulalui...tapi yang sudah berlalu akan selamanya berlalu dan tak tergantikan...As a candle that been lighten, it could never be as beautiful as it first lit.

There are differences between happiness and pleasure
Happiness is momentary - only happen once and unrepeatable
Pleasure is what people do to gain memory of what they called happiness
(socalledpoet)

Saturday, January 31, 2009

A Bed or a Couch??


Dulu banget..i know this guy
Aku kira i fall in love with him, and so does he
I blush when he kiss me
Im happy when he looked at me
I felt warm when he held my hand
but somehow i knew
that it wont last long
and it does....
One day he realize that he didn't love me, and luckily..i realized it too

Aku ketemu lagi dengan banyak orang, banyak sahabat
dan aku belajar dari banyak peristiwa
Hingga satu saat, aku tiba-tiba menyadari apa arti dari hal-hal yang kualami

Sometimes..ketika kita merasa lelah
kita memerlukan tempat untuk beristirahat
dan ketika ketika terlalu malas untuk masuk ke kamar yang lebih jauh letaknya
biasanya kita akan beristirahat sejenak di sofa
entah di ruang tamu, di teras, atau di ruang keluarga

I think i become a couch that time
a place to rest a little while before we enter a deep sleep in a bed
dan mungkin saat itu, he is my couch, eventhough that time i felt its a bed

Sofa adalah tempat yang menyenangkan untuk beristirahat sejenak
tapi kalo kita terlalu lama tidur di sofa, kita akan mulai menyadari bahwa that this isnt that comfort
entah karena panjangnya tidak sesuai sehingga kita harus menekuk kaki
atau terlalu keras sehingga badan kita malah terasa sakit semua
dan parahnya lagi
kita tidak akan mau tertangkap basah ngiler di sofa saat ada tamu datang

But a bed, is a place where we can feel total comfort
kita bisa bebas menjadi diri kita apa adanya
mau ngorok, ngiler, telentang atau guling-guling
it takes us just as we are

mungkin tempat tidur kita terletak di tempat yang tersembunyi
kasurnya bau iler, atau basah karena bekas air mata
pesing karena bekas ommpol (hey, it could be klo tu kasur dah ada semenjak lo kecil!)
bercak bekas saos atau kecap gara-gara kumat late-night-snack-fevernya
atau bentuknya tidak seindah sofa, yang bersih dan selalu terawat
but a bed can give us comfort a
nd no matter how long we slept
it is okay
cos it meant to be a place where u could really rest

Well, i have to go home now
I havent slept for a few day
i feel so tired

hopefullly, i can sleep in my bed ;)

::cry::

I try to be strong
but im weak
I try to be brave
but im scared
I try to be a woman
but i feel like a child
I try to get up
but im falling

From the world that had torn appart upon me
as it is as for a clud that shed by a twisting winds
Some day i know I'll walk up straight
With my head up high and a certain step

But today and just today
i just want to cry

Wednesday, January 21, 2009

aku punya satu cerita

Ada seorang peri kecil bernama Narnia
Dia ingin menjadi seorang malaikat
Satu demi satu ia kumpulkan
Bulu-bulu kristal untuk dijadikan sayap malaikatnya kelak
Bulu-bulu yang kuat dan ringan
Namun sangat sulit didapat
Satu-satunya jalan menuju nirwana
Tempat para malaikat ada

Dengan kerja keras dan perjuangan dia kumpulkan bulu-bulu itu
Sudah hampir menjadi sayap
Sayap indah yang akan membawanya terbang tinggi ke awan
O betapa Narnia sangat ingin menjadi malaikat
Dia pelari handal, pencari jejak yang cakap, dan pemikir ulung
Siang dan malam Narnia bekerja dan belajar
Supaya secepatnya ia dapat mengumpulkan bulu-bulu itu
Waktunya sudah hampir tiba

Akhirnya sayap itu didapatkannya
Betapa gembira hatinya
Terbayang olehnya apa yang ada di depannya
Masa depan yang begitu terang, indah dan gemerlap
Dia kenakan sayap itu di punggungnya
Betapa indah tampaknya
Narnia sangat bahagia

Tetapi Narnia tak tahu
Perjalanan ke sana tidaklah mudah
Dia harus mengenal angin
Angin yang dapat menjadi temannya sehingga dia dapat terbang tinggi
Atau menjadi musuh yang dapat menghempaskannya
Pelajaran mengenai angin ini tidak ada di buku-buku manapun
Seorang peri hanya dapat menduga, berharap dan belajar dari pengalaman

Angin yang pertama ternyata sangat keras tiupannya
Berputar-putar dan tidak kenal ampun
Beberapa kali Narnia terbanting ke tanah
Bulu-bulu di sayapnya ada yang hilang
Sayap itu agak rusak kini
Membuat terbangnya menjadi lambat
Dan Narnia pun mulai merasa lelah

Kemudian bertiup angin lain
Yang tampaknya lebih bersahabat
Narnia dapat terbang dengan mudah
Bahkan merasa lebih ringan
Kekuatan tubuhnya perlahan pulih
Dan ia dapat terus membumbung ke atas

Namun ketika Narnia sudah merasa dekat dengan tujuannya
Angin ribut kembali bertiup
Narnia merasa takut dan panik
Sayapnya bergetar hebat
Angin itu sangat kencang
Sedikit lagi dia akan sampai
Tinggal sedikit lagi

Dia memutuskan untuk maju
Dengan segala kekuatannya, ia melawan angin itu
Tapi angin itu terlalu kuat
Narnia terhempas hebat
Ketika kesadarannya pulih
Dia menyadari suatu kenyataan pahit
Sayap-sayapnya hancur berantakan

Narnia berduka
Segala impiannya ikut hancur bersama sayapnya
Andaikata ia tidak nekat menerjang angin itu
Seandainya dia mau menunggu barang sebentar saja
Seandainya dia lebih menggunakan pikirannya dibandingkan emosinya

Narnia sangat menyesal
Ketergesaan dan ketidakmatangannya telah berbuah
Buah yang sangat pahit
Masa depannya yang dulu tampak begitu terang kini menjadi gelap
Segala penyesalan sudah tak berguna
Semuanya telah hancur berkeping-keping

Angin hanyalah angin
Yang bisa dilalui asalkan kita mengerti
Segala yang ada
Segala yang kita alami
Ambilah waktu sejenak untuk berpikir
Sebelum penyesalan itu datang