Thursday, March 21, 2013

PERNIKAHAN vs PASANGAN






Menikah adalah mengenai niat dan keyakinan, bukan melulu masalah kesiapan materi dan ketepatan waktu. Saya selalu mempercayai itu.

Pasangan suami istri saling mendukung dan bertindak sebagai partner, sebagai team. Mereka adalah dua orang yang disatukan dengan tujuan yang sama. Berbeda dengan keluarga yang disatukan oleh darah (like it or not they are your family), pernikahan dilakukan atas dasar pilihan. Atas dasar 'keyakinan' bahwa orang yang dinikahinya adalah orang yang dapat diajak bekerja sama untuk mencapai tujuan. 
Ambisi yang ada adalah ambisi berdua, bukan hanya ambisi pribadi. Karena jika ambisi pribadi yang terjadi, maka salah satu pihak akan tertekan. Dan itu bukanlah landasan keluarga yang baik. Sebagai partner, maka mereka berbagi segala hal untuk menguatkan 'team' mereka. Baik susah maupun senang. Jadi, jika anda masih menyimpan kesusahan sendiri dengan dalih pasangan anda tidak perlu tahu, well...apa gunanya berpasangan? Itu sama saja dengan hidup 'bersama-sama' bukan hidup bersama. 
Menurut saya seperti itu. Tapi tahu apalah saya, menikah saja belum, menemukan yang diajak berkeluarga saja masih belum nemu-nemu. So, kalau anda tidak setuju dengan pendapat saya diatas, itu sama sekali tidak masalah. Wong itu pendapat amatiran.

Tapi  saya bukan mau menulis mengenai itu, saya mau bercerita, tentang sepasang kenalan, yang menurut saya menganut sebuah prinsip yang kurang lebih mirip dengan yang saya sebutkan diatas.

Sebut saja nama pasangan ini Joni dan Ani. Joni merupakan wirausahawan... mmm.. bukan ... lebih tepat disebut dengan pekerja serabutan profesional. Apapun bisa dia kerjakan. Untuk pekerjaan utama, Joni memilih sebagai desainer Interior, pekerjaan sampingan adalah EO, kontraktor, pembuat furniture, dan juga pedagang material. Joni dan Ani bertemu di fakultas arsitektur, ketika mereka berdua kuliah. Jadi saat ini, Ani membantu Joni dalam pekerjaan desainer interior. 
Kemarin saya bertemu dengan pasangan ini, setelah ngobrol panjang lebar, masuklah satu isu, yaitu perhelatan pernikahan. Dan mulailah Joni bercerita.

Setelah lulus kuliah, Joni berkata pada Ani, yang saat itu adalah kekasihnya :

" Ani, keluargaku adalah keluarga sederhana. AKu tidak punya uang, tidak bekerja sebagai pegawai yang punya penghasilan tetap. Aku akan benar-benar memulai hidup dari 0. Tetapi aku ingin menjadikanmu pasangan hidupku untuk selamanya. "

"Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga yang aku bisa, untuk memberikan pernikahan yang layak untukmu. Maukah kau menungguku?"

Karena cinta dan kepercayaannya pada sang kekasih, Ani menyanggupi.
3 tahun Joni berjuang untuk mengumpulkan biaya pernikahan mereka. Dan sesuai dengan janji, Joni menggelar pernikahan, yang walaupun sederhana, tetapi direncanakan dengan baik. Keluarga Ani pun puas. Setelah perhelatan pernikahan selesai, mereka bulan madu seminggu di Bali. Sekembalinya dari bulan madu, tibalah mereka di rumah kontrakan mereka yang pertama. Ukuran 8x3 m2. Tanpa perabotan sama sekali. Hanya kasur, tanpa tempat tidurnya. Tetapi Joni dan Ani bahagia. Ani bahagia karena Joni menepati janjinya, Joni bahagia, karena dia membuktikan bahwa dia lelaki yang bisa diandalkan dan bertanggung jawab. Lunas sudah janjinya pada Ani. Dan mereka pun memulai kehidupan sebagai pasangan dengan perasaan lega dan bangga.

Joni dan Ani saat ini mempunyai dua orang anak. Kontrakan sudah lama ditinggalkan, mereka sudah punya rumah mungil yang manis. Sudah punya mobil pribadi dan sudah tidak perlu tidur di atas kasur tanpa tempat tidur karena springbed empuk sudah tersedia.
Mereka tetap sederhana, dan ketika Joni menceritakan hal ini pada saya. Ani memandangnya dengan bangga dan penuh rasa cinta.

Rasanya saya tidak akan melupakan tatapan Ani saat itu :)

Alasan saya menceritakan ini, adalah saya mendengar cerita teman-teman yang menjadi konsultan lepasan. Ada yang berhasil, ada yang kesulitan. Dan itu pula yang membuat mereka terkadang ragu, apakah bisa mendapatkan pasangan hidup yang bersedia menerima apa adanya. Jika apa adanya, saya yakin pasti sulit. Tetapi jika meminta mereka menjadi bagian dari team, sebagai pasangan yang bersama mencapai tujuan bersama dan membuktikan bahwa ucapan mereka patut dipertanggung jawabkan dan melakukan hal yang sama dengan Joni, saya yakin, pasangan yang tepat akan bersedia.

Niat dan keyakinan, serta usaha keras untuk menjadi lebih baik. Itu kualitas seorang kepala keluarga yang akan bekerja dengan segala daya upaya untuk menjaga keluarganya. Suatu nilai yang dapat dilihat setiap wanita.

Sekali lagi, pernikahan adalah masalah keyakinan. Jika sudah yakin, lakukanlah. Sebagai pasangan, dan bukan sebagai pribadi. Karena pernikahan itu dijalani berdua, bukan hanya sendiri. Entahlah...ini saya...menurut anda sendiri bagaimana? :)


***