Showing posts with label little something. Show all posts
Showing posts with label little something. Show all posts

Wednesday, November 20, 2013

CaPer





Sekolah hari ini membosankan.
Anak-anak lain sibuk mencatat sambil mendengarkan penjelasan Guru. Aku hampir jatuh tertidur.  Untung saja tempat dudukku dekat jendela. Setidaknya aku bisa bebas memandang ke luar. 
Kutopangkan tangan di dagu.
Iseng, aku mengambil segumpal kertas dan kulempar ke arah temanku. 

Sial, dia tidak merespon. 
 
Kali ini kutendang kursinya. Tersentak, dia mengangkat kepala, seakan hendak menoleh ke arahku. Namun diurungkannya. 
Kesal, aku pun berdiri lalu menuju ke tempatnya. Kuguncang tubuhnya, kurebut catatannya dan kulempar ke luar jendela! 
 
Sekarang semua memperhatikanku, bahkan pak Guru.
Suasana menjadi riuh. 
Aku tertawa. 
Sampai pak Guru menggumamkan Ayat Kursi yang mengusirku pergi.

***

Apa Salahku ?




Hari ini aku tidak selera makan. 

Lagi-lagi menu makan siangku sama seperti hari-hari kemarin.  
Ikan lagi …. ikan lagi. 

Bisakah mereka memberikanku makanan lain??  

Aku tahu bahwa rumah ini berada di dekat pantai, bahkan pekerjaan Pemilik rumah adalah nelayan. Walau aku hanya menumpang tidur, ijinkan aku berkeluh sekali saja.  

AKU BOSAN MAKAN IKAN! 

Sejujurnya, makanan kesukaanku adalah sayur. Tetapi Pemilik rumah berkeras, tidak baik memberi makan tamu dengan sayur. Tidak sopan katanya.

Omong kosong! Aku yakin itu alasannya saja.

Aku bahkan berpikir mencuri sayur miliknya untuk menu siang ini.

Tapi tidak, aku tidak akan mencuri.

Aku kan kucing terhormat.

***

Monday, November 18, 2013

Impian Menjadi Sempurna



 

“Mama, aku pengen deh kayak gitu, cantik bangeeet!”

Di televisi, seorang wanita berjalan anggun dengan menggunakan sayap merah. Tubuhnya yang gemulai tanpa cacat, membuat busana yang dikenakannya terlihat begitu menarik.

“Iya sayang, nanti Sienna kalau sudah besar pasti cantik seperti itu.

Aku membelai rambut anak perempuanku dengan lembut. Kukecup dengan sayang. Sienna merapatkan diri ke arahku, yang kusambut dengan merengkuhnya lebih erat.

“Tapi aku pendek, rambutnya keriting, mukaku bulat, kulitku juga gelap, belum lagi sering diejek gendut sama teman-teman disekolah”
 
Sienna cemberut, membuatku tersenyum geli. Kucubit pipinya yang gembul.
 Telepon genggamku berdering,

“Halo”

“Adriana, gimana? Kamu suka hasil rekamannya?”

***

Note:
Untuk semua wanita yang bermimpi untuk menjadi sempurna, kamu terlahir sempurna, percayai itu dan bahagialah

Malaikatku



 
Siluetmu terlihat dibalik layar.

Baru beberapa detik lalu kau berdiri di depanku.
Tanpa sungkan, kau lepaskan setiap helai pakaian yang melekat di tubuhmu.

Masih teringat jelas dalam benakku, perkataan yang kau ucapkan, sesaat setelah bibirmu membasahi lekuk leherku. Kusambut dengan pelukan mesra, mengecup setiap ujung tubuhmu. Malam itu, sambil berbaring dalam pelukan malam, lirih di telingaku,  

“Malam ini hanya ada kita, tak kuijinkan kau bersama dengan yang lain” 

Betapa bahagianya aku malam itu, tak kusangka bidadari seperti dirimu berbagi peluh denganku. Hanya bintang saksi kita, ketika tetes kenikmatan kau rengguk dengan puasnya. 

Tersentak, tanganku digamit seseorang.

“Papa, kenapa ada disini?”


***

Sunday, November 17, 2013

P.O.S.E.S.I.F



“Dini! Mama berangkat dulu ya! Ati-ati dirumah” 

Dini membuka matanya dengan malas. Wekernya bahkan belum berbunyi. Matahari masih enggan menampakkan sinarnya. 
Semenjak Mama naik jabatan, Mama semakin jarang di rumah. Walau senang karena Mama semakin royal dalam memberi barang, tak urung Dini sedikit merasa kesepian.

“Mamamu pergi lagi?”

Dini mengangguk. Meja sarapan itu sepi. Hanya ada dia dan Om Aris, adik ibunya.

“Hari ini Dini mau ajak Icha ke rumah lagi ya Om, biar ada temen tidur”

***
Icha tertawa . Om Aris selalu bisa membuatnya tertawa.
Itu sebabnya, Icha senang sekali ketika Dini memintanya untuk menginap malam ini. Icha senang melihat kedewasaan Om Aris dan tentu saja ketampananannya. Caranya berkelakar, caranya memanjakan, membuat Icha merasa menjadi gadis tercantik di dunia. Andaikan dia 20 tahun lebih tua.

***
“Kamu kok ngobrol sama Om Aris terus sih? Aku kan ngajak kamu nginep buat temenin aku bukan Om Aris”

“Ih. Dini apa-apaan sih. Aku kan cuma ngobrol sebentar. Masak Om Aris dicuekin sendirian. Udah ah, dah malam. Tidur yuk! Besok harus berangkat pagi”

Dini terdiam. Di dalam lemari ada satu set pakaian dalam hitam sexy, permintaannya yang akhirnya dikabulkan Mama.  Malam ini Dini akan meyakinkan Om Aris bahwa hanya dia yang boleh memilikinya.

***

catatan:
Cerita ini khusus kubuat demi seorang Little Missy di Manado.
Bukan #FF100 kata