Sunday, November 10, 2013

11 dan bukan 7


Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima...
Enam...
Tujuh...


De..la..pan…
Sembilan..
Sepuluh..sebelas...

Gadis itu bingung. Diulangnya kembali hitungan itu dalam hati. Tetap saja, angka yang muncul sebelas.  

“Hey! Siapa kamu? Kenapa kau tidur di ranjang kami??”, salah satu dari pria itu bertanya.

Gadis itu memandangi sekelilingnya. Sebelas pasang mata menatapnya. Beberapa saling berbisik satu sama lain.

“Maafkan aku, tadi aku tersesat di dalam hutan.”
“Ijinkanlah aku tinggal, maka aku akan membantu kalian”

Sebelas mata itu diam.

Salah satu akhirnya berkata, “Baiklah. Kau boleh tinggal. Siapa namamu?”

“Panggil aku Putri Salju”

Empat orang dari mereka terkejut.

“ Gareng! Sepertinya kita salah masuk cerita”

***
Jakarta10112013

Saturday, November 9, 2013

Sebuah Kejutan Untuk Yang Tercinta




“Bisakah kita bertemu malam ini?”

“Tentu saja. Apapun untukmu sayang”

Kututup pembicaraan dengan ciuman mesra. Ah  Riko, kau selalu membuat hatiku berbunga-bunga.

Sebenarnya aku tahu apa yang terjadi. Seorang sahabat memberitahukannya kepadaku. Perasaanku bercampur baur. Tapi aku harus bersabar.


***

Di sebuah restaurant, ditemani cahaya lilin, kududuk memandangnya. Riko sungguh terlihat tampan malam ini. Tingkahnya agak gugup. Aku berusaha berlaku wajar.

“Yuna, maukah kau menikah denganku?”

Sebuah kotak berisi cincin kau sodorkan padaku.

“Tidak!! Katamu kau akan meninggalkan dia!”

Raut wajahmu berubah. Pucat pasi kau mengenali siapa yang bersuara.
Lihatlah, betapa aku mencintaimu. Kuberikan kau panggung untuk mementaskan peranmu.

Dihadapan kekasihmu.


Friday, November 8, 2013

Pertanda Hati

picture courtesy


Rika melamun.

Hujan deras memanjakan inderanya. Apa daya, pekerjaannya belum tuntas. Padahal tubuhya sudah penat. Matanya pun sudah berat, ingin rasanya segera bergelung di ranjangnya yang empuk.

Sambil menghela napas, Rika memaksa diri bergerak kearah pantry. Dituangnya air mendidih ke sebuah cangkir berisi bubuk kopi. Harumnya langsung membuat Rika tersenyum . Dia ingat saat pertama bertemu Gio, kekasihnya. Ah, betapa dia rindu...

Tegakan terakhir, matanya tertuju ke dasar cangkir. Ampas kopi itu berbentuk hati.  Ini pasti pertanda. Tiba-tiba seekor cicak jatuh di lengannya, tersentak, Rika memekik. Pegangan terlepas. Cangkir terjatuh. Hati terbelah menjadi dua.

Tak lama, telepon genggamnya berbunyi.

Gio…

Sunday, October 13, 2013

6 Oktober 2013



Sorot mata jenaka terpampang di lembaran foto lama. Tersenyumku memandangnya. Kuletakkan kembali ke meja. Aku bergegas, waktu telah menunjukkan 06.30 pagi. Harus segera berangkat . Hari ini hari bersejarah.

Setelah berganti beberapa kali menggunakan transportasi umum, sampailah juga di Kawasan Ancol. Bersama dengan beberapa orang lain, aku turun di kawasan Ancol. Pandangan mata beralih ke orang-orang yang ada di sekitarku. Kami langsung tersenyum, ada kebersamaan hangat yang merekah, kami disana untuk tujuan yang sama. Ada yang berasal dari Bandung, Purwokerto, bahkan Solo. Tekad mereka hanya satu, untuk turun tangan. Benaar, untuk melakukan sesuatu dan bukan hanya berpangku tangan. Kala linimasa dan media dipenuhi berita-berita negatif, keluhan, pesimisme, disini aku bertemu dengan orang-orang yang mempunyai keberanian dan kemauan untuk DO SOMETHING POSITIVE. 

Aku menghormati mereka lebih dari pada orang-orang yang sibuk membuat analisis, kritik pedas, dan demo-demo di jalanan.
No offense, but hey, we are doing something for good sake.
Pagi masih awal, tetapi sudah banyak orang berkumpul di meja pendaftaran. Masih 2 jam sebelum pintu dibuka, wajah-wajah bersemangat terlihat disana sini. Raut ramah dan bahagia. Aku tersenyum kecil. Kami semua disini untuk bekerja, tapi mengapa perasaan kami begitu ringan?

Setelah pintu dibuka, kami diarahkan masuk ke sebuah ruangan untuk diberikan orientasi dasar. Sekilas kulihat kelompokku. Beragam sekali, ada yang membawa anak-anaknya, ada yang terlihat seperti pelajar SMP. Mereka semua rela datang jauh-jauh ke Ancol dan menghabiskan waktu libur mereka untuk bekerja. Iya bekerja, karena memang namanya adalah Kerja Bakti.




***

Jadi ingat, pertama kali tahu tentang event ini adalah dari balasan tweet-ku tentang kelas inspirasi oleh @babung, seorang teman di WWF dan mas @IsrarArdiansyah yang kukenal dari salah satu acara WWF.  Setelah diberi link website Festival Gerakan Indonesia Mengajar (FGIM) dan membaca isinya, aku pun menjadi semakin tertarik dan langsung mendaftar. Lanjut tidak lupa woro-woro di social media, supaya temen-teman yang lain ikutan. Eh ada yang nyaut. Ternyata temanku (@seoulaja) menjadi salah satu panitia relawan dalam acara itu. Segera dimasukkannyalah diriku dalam salah satu fanpage facebook FGIM.

Wow! 

Betapa besar semangat teman-teman semua yang ada disana. Membaca posting wall yang ada, rasanya makin tak sabar menunggu hari-H tiba. Sudah sangat lama sejak terakhir aku melihat semangat seperti itu, rasanya seperti menemukan sumber air di tengah padang pasir.

Dan benarlah, pada saat awal aku menapaki tangga menuju ruang Kerja Bakti, semangat, antusiasme dari teman-teman panitia sangat terasa, padahal aku tau, mereka pasti bekerja sangat keras untuk mempersiapkan semua. Mulai dari perancangan program, persiapan peralatan, perekrutan peserta, penataan ruangan, penyusunan agenda, pengumpulan materi dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini tentunya tidak bisa terjadi jika mereka yang terlibat tidak memiliki semangat dan kepercayaan yang besar terhadap keberhasilan acara ini. Dan ini dilakukan oleh mereka yang notabene memiliki pekerjaan lain, dengan waktu 9 to 5, dan berada di Jakarta! Kebayang bagaimana membagi waktu antara pekerjaan, waktu (macet Jakarta tampaknya kalah telah sama semangatnya), serta kondisi tubuh yang dituntut fit sepanjang waktu. 

Seperti yang pernah aku dengar (atau aku baca)

“Apalah lautan selain sekumpulan titik-titik air”

Kata-kata itu sejatinya sungguhlah benar. Perubahan tidak dapat dimulai hanya dengan satu orang, namun bersama-sama, menularkan semangat, menularkan energi, untuk melakukan sesuatu. Berdasarkan niat ketulusan, melakukan perubahan untuk masa depan.

Bukan hanya bicara, kami beraksi. Walau mungkin hanya sesuatu yang kecil, seperti membuat beberapa set alat bantu belajar untuk para Pengajar Muda di Kotak Sains, atau menuliskan Surat Semangat untuk para siswa dan pengajar, ataupun menulis Kartupedia sebagai bentuk ensiklopedia  mini, aku pikir ini lebih baik dari sekedar wacana atau kata-kata.




Kembali teringat kepada mereka, rumahku, disuatu saat yang lampau. Tiga sorot mata jenaka, menantang dunia.  Sama seperti dulu, sebenarnya bukan anak-anak itu saja yang mendapatkan bantuan seperangkat alat peraga, ataupun sepucuk surat ataupun sekotak kartu. 
Namun sesungguhnya, akulah yang mendapatkan suntikan semangat, inspirasi dan keberanian untuk membuat perubahan. Memulai sesuatu yang selama ini hanya stuck di angan pemikiranku saja. 
Terimakasih Festival Gerakan Indonesia Mengajar. Kau telah membawa rumahku kembali.



Jakarta, 13 Oktober 2013.

Thursday, September 5, 2013

Kala itu di 5 September

ini adalah sebuah surat
yang ditulis dengan kasih
dituturkan dengan jujur
dan dilipat dengan rasa
ini adalah untukmu yang berada di surga
 

1.
 
Hari ini, lebih dari tiga dasarwarsa yang lalu, seorang wanita muda berjuang untuk melahirkan anak pertamanya.  Anaknya yang sulung, yang telah dinantikan 10 tahun lamanya. Matanya melirik ke arah kanan dan kiri, pikirannya gelisah.

Anak ini bandel sekali pikirnya. Sudah lebih dari 2x24 jam dia terbaring dengan keadaan perut melilit, dan bayi ini belum juga menunjukkan tanda untuk keluar dari rahimnya.
Wanita-wanita lain di kanan dan kirinya sudah silih berganti, tetapi setiap dia bertanya, perawat itu selalu menjawab:
 

"Belum ibu, bukaannya belum siap, dan ketubannya pun belum pecah"

Dalam hati dia menyumpah-nyumpah, sungguh tidak enak berada dalam keadaan ini. Sang suami dengan sabar mencoba menenangkannya, tetapi dia malah tambah emosi. 


2.

Wanita itu bergerak gelisah di ranjangnya. Walau begitu, ia terlihat cantik pikir pria itu. Well, dia memang selalu terlihat cantik. Dan sungguh dia merasa beruntung karena telah menjadi suaminya.

Pria itu ingat dikala - akhirnya - sang wanita menganggukkan kepala saat dia meminangnya. Hatinya bagaikan terbang ke awan. Diapun berjanji dalam hati, untuk selalu membuatnya bahagia, selama masa hidupnya.

Apalagi saat ini, ketika wanita yang sama, terbaring tak berdaya, berjuang untuk melahirkan anak pertama mereka. Bayi yang telah dinantikan selama satu dasawarsa.
Banyak yang berkomentar agar pria itu menyerah saja, agar mengambil bayi di panti asuhan untuk diadopsi. Pancingan kata mereka. Tetapi istrinya tak pernah bergeming. 

"Aku mau mencurahkan sepenuhnya kasih sayang untuk anak kita mas" begitu selalu kata istrinya.

Maka dia pun menurut. Dengan sabar mereka berdua menantikan kehadiran calon buah hati. Harapan yang membuncah, kemudian kandas, kemudian membuncah lagi. 
Gelombang harapan yang menyapu hati mereka selama ini akhirnya terbayarkan sudah. Istrinya dinyatakan hamil walaupun harus menjalani perawatan yang ketat. Mereka berdua menurut. Hal ini terlalu berharga untuk digagalkan oleh perbuatan sembrono ataupun egois.

Dan saat inipun Tuhan menguji kesabaran mereka lagi. 
Walau sudah masuk masa lahir, si bayi tetap tidak menampakkan tanda-tanda muncul ke dunia.

Diapun menghela napas,  

"Anakku, cepatlah keluar, kami sudah sangat ingin melihatmu" bisiknya lembut.

3.

Menjelang tengah malam, tiba-tiba wanita itu tersentak bangun. Kakinya terasa basah.
Ketubannya pecah. Diapun membangunkan suaminya. Suaminya bergegas berlari keluar kamar dan memberitahu perawat. Dia segera dipindahkan ke ruang bersalin.
Ini dia saatnya. 

Ketakutan.
Kesakitan.
Sungguh dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Keringat mengalir deras membanjiri wajahnya.

Oh Tuhan...bantu aku...


4.

Dini hari itu, suara tangisan bayi yang sangat keras terdengar dari ruang bersalin.

"Selamat ibu Ellya! Bayinya perempuan, dan sangat sehat" kata Dokter Erlyn.

Wanita itu mencari-cari wajah bayinya.
Dokter Erlyn mendekatkan bayi itu padanya. 
Benar anak itu sangat sehat, suaranya sangat keras. 
Seluruh tubuhnya sempurna tanpa cacat.
Matanya mengernyit, bayinya tampak hitam dan berminyak. 
Jelek sekali seperti anak babi. 

"Aku harus menebalkan rambutnya dan membentuk kepalanya, sungguh tak elok seorang perempuan berbentuk seperti ini"  pikirnya dalam hati.

Serorang perawat bertanya padanya,  

"Siapa nama anaknya bu?"

Dia terdiam sebentar, lalu langsung mengucapkan deretan kata yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari.

 "Namanya Erlyana Anggita Sari"
 

5.

Seorang wanita, di hari yang sama, 31 tahun kemudian.
Menatap ke layar monitor di depannya.
Jemarinya mengetikkan kata-kata yang didengarnya berkali-kali saat dia masih kecil.
Terbayang wajah ibunya yang mengejeknya, saat bercerita betapa jelek rupanya saat dia lahir.
Betapa ibunya tersiksa saat harus menunggu kelahirannya sampai 3 x 24 jam.
Dan betapa dia sangat mencintainya....


Bibirnya meringis.

Betapa waktu cepat berlalu.
Saat ini, dia berada di usia yang sama saat ibunya melahirkan dia dulu.
Sembari menuntaskan kisahnya, dia pun berdoa dalam hati.

Selamat untukmu mama
Karena telah berhasil melahirkanku ke dunia
Terimakasih atas kesabaranmu
Menantiku hingga selama itu.
Maafkan aku jika mengecewakanmu
Sungguh ku berharap dapat membuat engkau bangga suatu saat nanti.

Ku harap mama tak pernah menyesal
karena melahirkanku.
Hari ini, tepat 31 tahun yang lalu.

Doa untukmu kudaraskan.
Semoga kau berbahagia 
disana, di dalam surga


***