Sunday, October 13, 2013

6 Oktober 2013



Sorot mata jenaka terpampang di lembaran foto lama. Tersenyumku memandangnya. Kuletakkan kembali ke meja. Aku bergegas, waktu telah menunjukkan 06.30 pagi. Harus segera berangkat . Hari ini hari bersejarah.

Setelah berganti beberapa kali menggunakan transportasi umum, sampailah juga di Kawasan Ancol. Bersama dengan beberapa orang lain, aku turun di kawasan Ancol. Pandangan mata beralih ke orang-orang yang ada di sekitarku. Kami langsung tersenyum, ada kebersamaan hangat yang merekah, kami disana untuk tujuan yang sama. Ada yang berasal dari Bandung, Purwokerto, bahkan Solo. Tekad mereka hanya satu, untuk turun tangan. Benaar, untuk melakukan sesuatu dan bukan hanya berpangku tangan. Kala linimasa dan media dipenuhi berita-berita negatif, keluhan, pesimisme, disini aku bertemu dengan orang-orang yang mempunyai keberanian dan kemauan untuk DO SOMETHING POSITIVE. 

Aku menghormati mereka lebih dari pada orang-orang yang sibuk membuat analisis, kritik pedas, dan demo-demo di jalanan.
No offense, but hey, we are doing something for good sake.
Pagi masih awal, tetapi sudah banyak orang berkumpul di meja pendaftaran. Masih 2 jam sebelum pintu dibuka, wajah-wajah bersemangat terlihat disana sini. Raut ramah dan bahagia. Aku tersenyum kecil. Kami semua disini untuk bekerja, tapi mengapa perasaan kami begitu ringan?

Setelah pintu dibuka, kami diarahkan masuk ke sebuah ruangan untuk diberikan orientasi dasar. Sekilas kulihat kelompokku. Beragam sekali, ada yang membawa anak-anaknya, ada yang terlihat seperti pelajar SMP. Mereka semua rela datang jauh-jauh ke Ancol dan menghabiskan waktu libur mereka untuk bekerja. Iya bekerja, karena memang namanya adalah Kerja Bakti.




***

Jadi ingat, pertama kali tahu tentang event ini adalah dari balasan tweet-ku tentang kelas inspirasi oleh @babung, seorang teman di WWF dan mas @IsrarArdiansyah yang kukenal dari salah satu acara WWF.  Setelah diberi link website Festival Gerakan Indonesia Mengajar (FGIM) dan membaca isinya, aku pun menjadi semakin tertarik dan langsung mendaftar. Lanjut tidak lupa woro-woro di social media, supaya temen-teman yang lain ikutan. Eh ada yang nyaut. Ternyata temanku (@seoulaja) menjadi salah satu panitia relawan dalam acara itu. Segera dimasukkannyalah diriku dalam salah satu fanpage facebook FGIM.

Wow! 

Betapa besar semangat teman-teman semua yang ada disana. Membaca posting wall yang ada, rasanya makin tak sabar menunggu hari-H tiba. Sudah sangat lama sejak terakhir aku melihat semangat seperti itu, rasanya seperti menemukan sumber air di tengah padang pasir.

Dan benarlah, pada saat awal aku menapaki tangga menuju ruang Kerja Bakti, semangat, antusiasme dari teman-teman panitia sangat terasa, padahal aku tau, mereka pasti bekerja sangat keras untuk mempersiapkan semua. Mulai dari perancangan program, persiapan peralatan, perekrutan peserta, penataan ruangan, penyusunan agenda, pengumpulan materi dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini tentunya tidak bisa terjadi jika mereka yang terlibat tidak memiliki semangat dan kepercayaan yang besar terhadap keberhasilan acara ini. Dan ini dilakukan oleh mereka yang notabene memiliki pekerjaan lain, dengan waktu 9 to 5, dan berada di Jakarta! Kebayang bagaimana membagi waktu antara pekerjaan, waktu (macet Jakarta tampaknya kalah telah sama semangatnya), serta kondisi tubuh yang dituntut fit sepanjang waktu. 

Seperti yang pernah aku dengar (atau aku baca)

“Apalah lautan selain sekumpulan titik-titik air”

Kata-kata itu sejatinya sungguhlah benar. Perubahan tidak dapat dimulai hanya dengan satu orang, namun bersama-sama, menularkan semangat, menularkan energi, untuk melakukan sesuatu. Berdasarkan niat ketulusan, melakukan perubahan untuk masa depan.

Bukan hanya bicara, kami beraksi. Walau mungkin hanya sesuatu yang kecil, seperti membuat beberapa set alat bantu belajar untuk para Pengajar Muda di Kotak Sains, atau menuliskan Surat Semangat untuk para siswa dan pengajar, ataupun menulis Kartupedia sebagai bentuk ensiklopedia  mini, aku pikir ini lebih baik dari sekedar wacana atau kata-kata.




Kembali teringat kepada mereka, rumahku, disuatu saat yang lampau. Tiga sorot mata jenaka, menantang dunia.  Sama seperti dulu, sebenarnya bukan anak-anak itu saja yang mendapatkan bantuan seperangkat alat peraga, ataupun sepucuk surat ataupun sekotak kartu. 
Namun sesungguhnya, akulah yang mendapatkan suntikan semangat, inspirasi dan keberanian untuk membuat perubahan. Memulai sesuatu yang selama ini hanya stuck di angan pemikiranku saja. 
Terimakasih Festival Gerakan Indonesia Mengajar. Kau telah membawa rumahku kembali.



Jakarta, 13 Oktober 2013.

Thursday, September 5, 2013

Kala itu di 5 September

ini adalah sebuah surat
yang ditulis dengan kasih
dituturkan dengan jujur
dan dilipat dengan rasa
ini adalah untukmu yang berada di surga
 

1.
 
Hari ini, lebih dari tiga dasarwarsa yang lalu, seorang wanita muda berjuang untuk melahirkan anak pertamanya.  Anaknya yang sulung, yang telah dinantikan 10 tahun lamanya. Matanya melirik ke arah kanan dan kiri, pikirannya gelisah.

Anak ini bandel sekali pikirnya. Sudah lebih dari 2x24 jam dia terbaring dengan keadaan perut melilit, dan bayi ini belum juga menunjukkan tanda untuk keluar dari rahimnya.
Wanita-wanita lain di kanan dan kirinya sudah silih berganti, tetapi setiap dia bertanya, perawat itu selalu menjawab:
 

"Belum ibu, bukaannya belum siap, dan ketubannya pun belum pecah"

Dalam hati dia menyumpah-nyumpah, sungguh tidak enak berada dalam keadaan ini. Sang suami dengan sabar mencoba menenangkannya, tetapi dia malah tambah emosi. 


2.

Wanita itu bergerak gelisah di ranjangnya. Walau begitu, ia terlihat cantik pikir pria itu. Well, dia memang selalu terlihat cantik. Dan sungguh dia merasa beruntung karena telah menjadi suaminya.

Pria itu ingat dikala - akhirnya - sang wanita menganggukkan kepala saat dia meminangnya. Hatinya bagaikan terbang ke awan. Diapun berjanji dalam hati, untuk selalu membuatnya bahagia, selama masa hidupnya.

Apalagi saat ini, ketika wanita yang sama, terbaring tak berdaya, berjuang untuk melahirkan anak pertama mereka. Bayi yang telah dinantikan selama satu dasawarsa.
Banyak yang berkomentar agar pria itu menyerah saja, agar mengambil bayi di panti asuhan untuk diadopsi. Pancingan kata mereka. Tetapi istrinya tak pernah bergeming. 

"Aku mau mencurahkan sepenuhnya kasih sayang untuk anak kita mas" begitu selalu kata istrinya.

Maka dia pun menurut. Dengan sabar mereka berdua menantikan kehadiran calon buah hati. Harapan yang membuncah, kemudian kandas, kemudian membuncah lagi. 
Gelombang harapan yang menyapu hati mereka selama ini akhirnya terbayarkan sudah. Istrinya dinyatakan hamil walaupun harus menjalani perawatan yang ketat. Mereka berdua menurut. Hal ini terlalu berharga untuk digagalkan oleh perbuatan sembrono ataupun egois.

Dan saat inipun Tuhan menguji kesabaran mereka lagi. 
Walau sudah masuk masa lahir, si bayi tetap tidak menampakkan tanda-tanda muncul ke dunia.

Diapun menghela napas,  

"Anakku, cepatlah keluar, kami sudah sangat ingin melihatmu" bisiknya lembut.

3.

Menjelang tengah malam, tiba-tiba wanita itu tersentak bangun. Kakinya terasa basah.
Ketubannya pecah. Diapun membangunkan suaminya. Suaminya bergegas berlari keluar kamar dan memberitahu perawat. Dia segera dipindahkan ke ruang bersalin.
Ini dia saatnya. 

Ketakutan.
Kesakitan.
Sungguh dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Keringat mengalir deras membanjiri wajahnya.

Oh Tuhan...bantu aku...


4.

Dini hari itu, suara tangisan bayi yang sangat keras terdengar dari ruang bersalin.

"Selamat ibu Ellya! Bayinya perempuan, dan sangat sehat" kata Dokter Erlyn.

Wanita itu mencari-cari wajah bayinya.
Dokter Erlyn mendekatkan bayi itu padanya. 
Benar anak itu sangat sehat, suaranya sangat keras. 
Seluruh tubuhnya sempurna tanpa cacat.
Matanya mengernyit, bayinya tampak hitam dan berminyak. 
Jelek sekali seperti anak babi. 

"Aku harus menebalkan rambutnya dan membentuk kepalanya, sungguh tak elok seorang perempuan berbentuk seperti ini"  pikirnya dalam hati.

Serorang perawat bertanya padanya,  

"Siapa nama anaknya bu?"

Dia terdiam sebentar, lalu langsung mengucapkan deretan kata yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari.

 "Namanya Erlyana Anggita Sari"
 

5.

Seorang wanita, di hari yang sama, 31 tahun kemudian.
Menatap ke layar monitor di depannya.
Jemarinya mengetikkan kata-kata yang didengarnya berkali-kali saat dia masih kecil.
Terbayang wajah ibunya yang mengejeknya, saat bercerita betapa jelek rupanya saat dia lahir.
Betapa ibunya tersiksa saat harus menunggu kelahirannya sampai 3 x 24 jam.
Dan betapa dia sangat mencintainya....


Bibirnya meringis.

Betapa waktu cepat berlalu.
Saat ini, dia berada di usia yang sama saat ibunya melahirkan dia dulu.
Sembari menuntaskan kisahnya, dia pun berdoa dalam hati.

Selamat untukmu mama
Karena telah berhasil melahirkanku ke dunia
Terimakasih atas kesabaranmu
Menantiku hingga selama itu.
Maafkan aku jika mengecewakanmu
Sungguh ku berharap dapat membuat engkau bangga suatu saat nanti.

Ku harap mama tak pernah menyesal
karena melahirkanku.
Hari ini, tepat 31 tahun yang lalu.

Doa untukmu kudaraskan.
Semoga kau berbahagia 
disana, di dalam surga


***





Monday, August 26, 2013

Anak Nakal?? Really...

sumber gambar dari sini


Sewaktu saya kecil, ibu sangat sering memarahiku. Anehnya, setiap marah, beliau selalu mengatakan :

"Kamu itu gak nakal, cuma keras kepalanya minta ampun"

Oke. Jadi saya dimarahi bukan karena nakal, tetapi karena keras kepala.
Baiklah...itu dapat diterima.

Saya pun mulai memasuki masa-masa dewasa, yaitu kisaran umur 25 - 30an tahun. Di masa-masa ini, banyak teman yang menikah, dan saya pun dikelilingi oleh 'keponakan-keponakan' lucu dan menggemaskan. 
 
Untuk yang anaknya masih bayi hingga balita, kepribadian anak-anak ini menonjol dengan cara-cara yang unik. Ada yang pendiam, ada yang posesif, ada yang tertutup, ada yang banci tampil. Sungguh beraneka rupa. Saya juga mempelajari cara teman - teman saya mengasuh anak-anaknya. Cara mendidik, cara mendisiplinkan, dan hal-hal lainnya.

Sedangkan, bagi mereka yang anak-anaknya yang sudah memasuki usia sekolah, mereka mulai berkeluh mengenai uang spp, pendaftaran, les ini itu, bla bla bla...
Jadi ketawa sendiri dan miris mengingat betapa dulu semasa anak-anak, kita sebagai anak sekolah justru seringkali tidak memanfaatkan peluang ini dengan sering bolos dan hepi-hepi kala pelajaran kosong. What an ironic..

Berbicara kenakalan masa sekolah, anak-anak sekarang sudah cukup beruntung dengan adanya metoda pembelajaran yang menyesuaikan dengan karakter anak. Walaupun masih terbatas pada sekolah-sekolah tertentu, tetapi alternatif tersebut ada.
Bandingkan dengan jaman saya sekolah, dimana bentuk pengajarannya searah dan anak benar-benar diminta untuk diam dan mendengarkan, dalam artian sesungguhnya.

Semasa kecil, SD terutama, saya memiliki masalah untuk fokus pada satu bidang. Saya modah bosan untuk melakukan satu hal yang sama dalam waktu yang lama, sehingga reflek saya melakukan kegiatan lain.
Walau bukan termasuk anak nakal, saya tidak bisa diam. Entah mengajak bicara, menggerak-gerakkan kaki, bermain sendiri, apapun asal tidak dalam keadaan diam.

Tentunya ini membuat beberapa guru saya protes, saya dihukum untuk hal-hal yang menurut saya aneh. 
 
Seperti ketika SD kelas V, kami satu kelas diminta untuk mempelajari suatu bab di buku pelajaran. Karena lebih mudah dan lebih mengasyikkan kalau bersama-sama, maka saya mengajak teman saya sebangku dan teman di depan saya untuk bermain kuis. Bergantian kami tanya jawab, siapa yang benar dapat point. Yang menang dapat gratis nasi rames (Rp. 100 kala itu..terdiri dari nasi putih 3 sendok makan+beberapa butir kering tempe+ satu sendok makan mihun). Ketika asik bertanya jawab, nama saya diteriakkan oleh bu Guru. Satu kelas hening, semua mata tertuju ke saya.


Bu Guru : "NANA!!! Kamu itu disuruh belajar bukannya main. Ngapain kamu ribut sendiri??!!"

Saya: "Loh bu, saya gak main kok, saya belajar sama teman-teman"

Bu Guru: "Belajar apa, berisik begitu!!"

Saya: "Kalau Ibu ga percaya, tanya aja, nanti saya jawab" 

Dan ibu guru pun mulai menanyakan deretan pertanyaan, yang tentu saja bisa saya jawab semua.
Memang dasar orde baru dimana kekuasaan mutlak dan tak terbantahkan, saya tetap dihukum untuk membersihkan kamar mandi selama seminggu.

Jengkel...tapi bisa apa...terpaksa saya jalani hukuman itu.

Ya..begitulah..
 Kalau saya SDnya sekarang, mungkin orang tua saya akan mencak-mencak ke sekolah dan mengadukan ke wartawan bahwa terjadi penganiyayaan oleh guru...well...tapi orang tua saya tidak se-lebay itu....thanks God.


Saya jadi ingat salah satu anak teman saya yang bernama Nicho. Nicho ini juga tidak bisa diam. Gerak kesana kemari, dan karena ingin bermain, maka ngajak orang lain untuk 'bergabung'.
Saya ingat waktu bertemu Nicho saat acara reuni SMA. Ibunya benar-benar panik waktu dia dekat-dekat dengan seorang teman yang sedang hamil. Takut di slam-dunk katanya. 
Terus, ketika ibunya memberikan botol M&M dengan harapan Nicho duduk diam, Nicho berinisiatif menjadikan botol M&M itu menjadi microphone. Berdiri di kursi dan mulai jadi MC!
Itu sungguh-sungguh epic!!
Sebagai keterangan, kala itu kami reuni di sebuah restaurant di Mall, yang tentu saja tidak kami sewa pribadi. Dan suara Nicho keras!

Saya sakit perut karena tertawa, sedangkan ibunya panik tingkat tinggi.

Tapi, yang paling saya suka. Ibunya Nicho tidak memarahi Nicho sama sekali. NIcho dialihkan ke hal lain yang dapat membuat dia sibuk. Seperti disodorin tablet agar dia bisa asik main game. Satu hal ini, saya bangga pada teman saya, ibu Nicho yang sebaiknya tidak disebutkan namanya demi nama baik.

Saya juga punya beberapa teman yang disebut 'nakal' saat kecil dan saat ini menjadi orang-orang sukses. Nakal disini bukan nakal yang kriminil ya, teman-teman saya baik-baik semua..hehehe..
Nakal dalam artian tidak bisa diam, usil dan senang melakukan hal-hal baru.

Ada yang menjadi seorang terapist lulusan Kanada dengan beasiswa full, dan saat ini memiliki yayasannya sendiri.
Ada yang menjadi Manager dari sebuah perusahaan besar.
Ada yang menjadi Asisten VP dari sebuah bank ternama di tanah air.
Ada yang sekarang di luar negeri menjadi programmer sekaligus traveler.
Dan banyak lagi...

Dari yang saya perhatikan , mereka bisa berhasil seperti ini, tidak lain karena bimbingan orang tua mereka.
Sama seperti Ibunya Nicho, orang tua teman-teman saya ini bersikap positif terhadap ke'nakal'an anak-anaknya.
Mereka disibukkan dengan kegiatan-kegiatan positif, didorong untuk aktif berorganisasi, dan diasah untuk menjadi pelindung dan bukan penjajah. Sama seperti yang dilakukan oleh orang tua saya kepada saya dulu. Kami tidak pernah disebut nakal dan dikata-katai dengan kata-kata kasar. Disaat kepercayaan diri kami runtuh, mereka meyakinkan kami bahwa tidak ada yang tidak bisa kami lakukan.

Saya tersenyum...

Saat ini, kami sudah beralih peran. 
Dari anak-anak 'nakal' yang menyusahkan guru dan orang tua, menjadi orang tua serta guru bagi anak-anak kami.

Menilik pengalaman kami saat kecil, sungguh saya berharap, bahwa kami tidak lupa seperti apa kami saat kecil dulu, dan bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kami.



because we are human
with err and weakness
 future always there
behold in front of us
with little hands that we holding
and smile that we hope 
shall stay forever
even when we had let go


***

Sunday, August 25, 2013

Beyond Words



sumber gambar

Mungkin di suatu waktu
Di suatu kehidupan yang telah berlalu
Kau dan aku 
Adalah dua jiwa yang dulu satu

Kita yang tak tertali saudara
Tak berbagi daging dan darah
Tapi memiliki ikatan kuat
Yang tak kasat mata

Tak perlu kata untuk mengatakan apa yang dirasakan
Hanya butuh tatapan dan senyuman
Maka semua yang ada di dalam pikiran terutarakan


We are beyond words. And that's that.



***

Untukmu Ayah dan Ibu




Ketika ku kecil, tidak terlintas di benakku untuk mengenal lebih jauh sosok kedua orangtuaku. Aku hanya mengenal sosok papa dan sosok mama. Tentang betapa galak dan cerewetnya mama, dan kebaikan serta kesabaran papa yang tak pernah menolak apapun yang kuminta. Masa kecilku kulalui dengan tenang, penuh kesenangan dan kebahagiaan kanak-kanak.

Seiring waktu berlalu, keadaan berubah, aku pun belajar untuk melihat bukan hanya sosok 'papa' dan 'mama' tetapi sosok mereka sebagai pribadi. Aku menyadari, bahwa mereka tidak sempurna tapi berusaha menjadi orang tua yang sempurna, untukku.


Aku belajar untuk melihat mereka dari sisi yang berbeda. Dari cerita teman-temanku, aku mengetahui bahwa ayahku merupakan salah satu pegawai yang memiliki pencapaian istimewa di perusahaan tempatnya bekerja. Dengan umur yang masih relatif muda, dia telah menapakkan jejak karirnya di posisi yang tinggi. Istrinya, mamaku, merupakan wanita yang mudah bergaul dan disayang oleh banyak orang. Sosok wanita cantik yang baik hati dan tak pernah berprasangka. Teman-temanku menyebutnya "Tante Cantik yang Baik Hati".

Roda kehidupan pun berputar. 


Kini aku menapaki kehidupan sebagai wanita dewasa, meniti karir dan hidup mandiri. Seiring berjalannya waktu, teman-temanku mulai menjadi ayah dan ibu. Mereka berbagi kisah mereka tentang menjadi orang tua. Kegugupan, ketidakpastian, pengharapan dan pengabdian terhadap anak-anak mereka. Dan akupun mulai menyadari bahwa orang tuaku dulu pasti merasakan kegugupan yang sama saat menjadi orang tua. Saat aku tak bisa berhenti menangis, atau ketika aku mengompol di saat pernikahan keluarga. Atau ketika aku hilang saat pesta natal karena terlalu asik menjelajah. Kepanikan, amarah dan kedisiplinan itu mulai menjadi masuk akal.

Saat rambut orangtuaku tak lagi hitam. Ingatan mulai memudar. Kekuatan yang mulai meluruh. Aku melihat mereka sebagai manusia.
 
Aku menghargai pencapaian ayahku di masa mudanya, bahwa perjuangan dan pencapaiannya bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. 
Aku mempelajari kerjasama mama dan papa dalam mengelola rumah tangga, dan memahami bahwa 25 tahun usia perkawinan sungguh-sungguh merupakan hal membanggakan.

Aku pun tumbuh sebagai manusia, berdasarkan kesalahan, keberhasilan, kekeliruan, dan perjuangan mereka.

Aku bukan lagi seorang anak, melainkan seorang dewasa yang berjuang untuk dapat memberikan hal yang kuterima dulu kepada keluargaku kelak. 
Aku beranjak dari seorang anak yang diobati lukanya saat terjatuh dari sepeda, menjadi seorang manusia yang belajar bertahan menghadapi hidup yang tak selalu ramah.

Orang tuaku telah menghilang. 

Mereka kini menjadi temanku, dimana kami tak selalu seiya-sekata, dan menempuh kehidupan masing-masing, di dunia yang berbeda. Kami berbicara sebagai sesama dewasa, walau terkadang, sebagai orang tua, tersilap rasa untuk menyimpan gadis kecilnya untuk selamanya.

Dari kesemua yang terjadi, segala hal yang telah dilalui, kenangan manis dan pelajaran pahit, aku sadar sesadarnya bahwa diriku adalah hasil asuhan dan didikan mereka. Dan aku berterimakasih, bahwa apa yang kulalui menjadikan diriku saat ini.


Terakhir, ku hanya ingin mengatakan:
 
"Mom, Dad, you have done your job well done and I'm so proud to be your daughter"


***

Monday, May 6, 2013

Indigo Girl

OST : Indigo Girl - Watershed
Teringat suatu  waktu, dimana engkau dan aku bersama duduk, mengelilingi sebuah meja bundar.
Uap panas mengepul keluar dari cangkir teh kita.
Saat itu masih pagi, kau mengenakan baju tidurmu, dan aku pun demikian. Terpekur berdua merenungi hari, nyaman dalam keheningan yang akrab.
Suasana tenang, terdengar beberapa burung gereja mencicit di hutan belakang rumahmu. Mengalun musik dari radio yang selalu kita pasang setiap pagi.

"Your my little indigo girl, its a beautiful world when you around"

Tiba-tiba kau tersenyum, mengangkat alis matamu dan memandangku,

"Tiap denger lagu ini aku inget Nana lho"
Aku terkejut mendengar perkataanmu itu.
Lagu itu memang merupakan salah satu lagu kesayanganku.
Bukan lagu populer, dan jarang ada yang tahu lagu itu. 
Pertama kali aku mendengarnya, ketika bersamamu, mengelilingi kota Jogja dengan mobil putihmu. 
Saat-saat yang menyenangkan, mengingat sulit sekali aku bisa memiliki waktu sendiri denganmu.
Aku kembali tersenyum padamu dan berkata sambil tertawa,  "Kok bisa?"

Dan kamu pun tertawa.
Senangnya mendengar suara tawamu. 
Begitu jernih, seperti suara bel yang berkerincing di pagi Natal yang indah.

****

Ingatan ini kembali begitu jernih
Merasuk dalam ingatanku, dan terpancar kembali melalui putaran kenangan dalam anganku, seakan-akan aku baru mengalaminya kemarin.

Ingatan 9 tahun yang lalu, dan aku masih bisa membayangkan wajahmu terterpa sinar matahari pagi sambil memegang cangkir teh.

"Minum teh dulu Nana, biar seger"

Selalu begitu ucapanmu setiap aku terbangun di pagi hari bersamamu.
Kenangan sederhana yang entah kenapa terasa pilu mengiris hati.
Dan disinilah aku saat ini, duduk menatap monitor komputerku, mengetikkan kata-kata yang bercerita tentang kamu.

Kamu yang berada ribuan kilometer dariku.
Tidak hanya melalui raga namun juga hati.
Kuharap kamu membaca ini, dari manapun kamu berada.

I love you and always love you, 

sebuah kalimat yang kuharap tidak terlambat ku ucapkan.


Thursday, March 21, 2013

PERNIKAHAN vs PASANGAN






Menikah adalah mengenai niat dan keyakinan, bukan melulu masalah kesiapan materi dan ketepatan waktu. Saya selalu mempercayai itu.

Pasangan suami istri saling mendukung dan bertindak sebagai partner, sebagai team. Mereka adalah dua orang yang disatukan dengan tujuan yang sama. Berbeda dengan keluarga yang disatukan oleh darah (like it or not they are your family), pernikahan dilakukan atas dasar pilihan. Atas dasar 'keyakinan' bahwa orang yang dinikahinya adalah orang yang dapat diajak bekerja sama untuk mencapai tujuan. 
Ambisi yang ada adalah ambisi berdua, bukan hanya ambisi pribadi. Karena jika ambisi pribadi yang terjadi, maka salah satu pihak akan tertekan. Dan itu bukanlah landasan keluarga yang baik. Sebagai partner, maka mereka berbagi segala hal untuk menguatkan 'team' mereka. Baik susah maupun senang. Jadi, jika anda masih menyimpan kesusahan sendiri dengan dalih pasangan anda tidak perlu tahu, well...apa gunanya berpasangan? Itu sama saja dengan hidup 'bersama-sama' bukan hidup bersama. 
Menurut saya seperti itu. Tapi tahu apalah saya, menikah saja belum, menemukan yang diajak berkeluarga saja masih belum nemu-nemu. So, kalau anda tidak setuju dengan pendapat saya diatas, itu sama sekali tidak masalah. Wong itu pendapat amatiran.

Tapi  saya bukan mau menulis mengenai itu, saya mau bercerita, tentang sepasang kenalan, yang menurut saya menganut sebuah prinsip yang kurang lebih mirip dengan yang saya sebutkan diatas.

Sebut saja nama pasangan ini Joni dan Ani. Joni merupakan wirausahawan... mmm.. bukan ... lebih tepat disebut dengan pekerja serabutan profesional. Apapun bisa dia kerjakan. Untuk pekerjaan utama, Joni memilih sebagai desainer Interior, pekerjaan sampingan adalah EO, kontraktor, pembuat furniture, dan juga pedagang material. Joni dan Ani bertemu di fakultas arsitektur, ketika mereka berdua kuliah. Jadi saat ini, Ani membantu Joni dalam pekerjaan desainer interior. 
Kemarin saya bertemu dengan pasangan ini, setelah ngobrol panjang lebar, masuklah satu isu, yaitu perhelatan pernikahan. Dan mulailah Joni bercerita.

Setelah lulus kuliah, Joni berkata pada Ani, yang saat itu adalah kekasihnya :

" Ani, keluargaku adalah keluarga sederhana. AKu tidak punya uang, tidak bekerja sebagai pegawai yang punya penghasilan tetap. Aku akan benar-benar memulai hidup dari 0. Tetapi aku ingin menjadikanmu pasangan hidupku untuk selamanya. "

"Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga yang aku bisa, untuk memberikan pernikahan yang layak untukmu. Maukah kau menungguku?"

Karena cinta dan kepercayaannya pada sang kekasih, Ani menyanggupi.
3 tahun Joni berjuang untuk mengumpulkan biaya pernikahan mereka. Dan sesuai dengan janji, Joni menggelar pernikahan, yang walaupun sederhana, tetapi direncanakan dengan baik. Keluarga Ani pun puas. Setelah perhelatan pernikahan selesai, mereka bulan madu seminggu di Bali. Sekembalinya dari bulan madu, tibalah mereka di rumah kontrakan mereka yang pertama. Ukuran 8x3 m2. Tanpa perabotan sama sekali. Hanya kasur, tanpa tempat tidurnya. Tetapi Joni dan Ani bahagia. Ani bahagia karena Joni menepati janjinya, Joni bahagia, karena dia membuktikan bahwa dia lelaki yang bisa diandalkan dan bertanggung jawab. Lunas sudah janjinya pada Ani. Dan mereka pun memulai kehidupan sebagai pasangan dengan perasaan lega dan bangga.

Joni dan Ani saat ini mempunyai dua orang anak. Kontrakan sudah lama ditinggalkan, mereka sudah punya rumah mungil yang manis. Sudah punya mobil pribadi dan sudah tidak perlu tidur di atas kasur tanpa tempat tidur karena springbed empuk sudah tersedia.
Mereka tetap sederhana, dan ketika Joni menceritakan hal ini pada saya. Ani memandangnya dengan bangga dan penuh rasa cinta.

Rasanya saya tidak akan melupakan tatapan Ani saat itu :)

Alasan saya menceritakan ini, adalah saya mendengar cerita teman-teman yang menjadi konsultan lepasan. Ada yang berhasil, ada yang kesulitan. Dan itu pula yang membuat mereka terkadang ragu, apakah bisa mendapatkan pasangan hidup yang bersedia menerima apa adanya. Jika apa adanya, saya yakin pasti sulit. Tetapi jika meminta mereka menjadi bagian dari team, sebagai pasangan yang bersama mencapai tujuan bersama dan membuktikan bahwa ucapan mereka patut dipertanggung jawabkan dan melakukan hal yang sama dengan Joni, saya yakin, pasangan yang tepat akan bersedia.

Niat dan keyakinan, serta usaha keras untuk menjadi lebih baik. Itu kualitas seorang kepala keluarga yang akan bekerja dengan segala daya upaya untuk menjaga keluarganya. Suatu nilai yang dapat dilihat setiap wanita.

Sekali lagi, pernikahan adalah masalah keyakinan. Jika sudah yakin, lakukanlah. Sebagai pasangan, dan bukan sebagai pribadi. Karena pernikahan itu dijalani berdua, bukan hanya sendiri. Entahlah...ini saya...menurut anda sendiri bagaimana? :)


***