Monday, May 6, 2013

Indigo Girl

OST : Indigo Girl - Watershed
Teringat suatu  waktu, dimana engkau dan aku bersama duduk, mengelilingi sebuah meja bundar.
Uap panas mengepul keluar dari cangkir teh kita.
Saat itu masih pagi, kau mengenakan baju tidurmu, dan aku pun demikian. Terpekur berdua merenungi hari, nyaman dalam keheningan yang akrab.
Suasana tenang, terdengar beberapa burung gereja mencicit di hutan belakang rumahmu. Mengalun musik dari radio yang selalu kita pasang setiap pagi.

"Your my little indigo girl, its a beautiful world when you around"

Tiba-tiba kau tersenyum, mengangkat alis matamu dan memandangku,

"Tiap denger lagu ini aku inget Nana lho"
Aku terkejut mendengar perkataanmu itu.
Lagu itu memang merupakan salah satu lagu kesayanganku.
Bukan lagu populer, dan jarang ada yang tahu lagu itu. 
Pertama kali aku mendengarnya, ketika bersamamu, mengelilingi kota Jogja dengan mobil putihmu. 
Saat-saat yang menyenangkan, mengingat sulit sekali aku bisa memiliki waktu sendiri denganmu.
Aku kembali tersenyum padamu dan berkata sambil tertawa,  "Kok bisa?"

Dan kamu pun tertawa.
Senangnya mendengar suara tawamu. 
Begitu jernih, seperti suara bel yang berkerincing di pagi Natal yang indah.

****

Ingatan ini kembali begitu jernih
Merasuk dalam ingatanku, dan terpancar kembali melalui putaran kenangan dalam anganku, seakan-akan aku baru mengalaminya kemarin.

Ingatan 9 tahun yang lalu, dan aku masih bisa membayangkan wajahmu terterpa sinar matahari pagi sambil memegang cangkir teh.

"Minum teh dulu Nana, biar seger"

Selalu begitu ucapanmu setiap aku terbangun di pagi hari bersamamu.
Kenangan sederhana yang entah kenapa terasa pilu mengiris hati.
Dan disinilah aku saat ini, duduk menatap monitor komputerku, mengetikkan kata-kata yang bercerita tentang kamu.

Kamu yang berada ribuan kilometer dariku.
Tidak hanya melalui raga namun juga hati.
Kuharap kamu membaca ini, dari manapun kamu berada.

I love you and always love you, 

sebuah kalimat yang kuharap tidak terlambat ku ucapkan.


Thursday, March 21, 2013

PERNIKAHAN vs PASANGAN






Menikah adalah mengenai niat dan keyakinan, bukan melulu masalah kesiapan materi dan ketepatan waktu. Saya selalu mempercayai itu.

Pasangan suami istri saling mendukung dan bertindak sebagai partner, sebagai team. Mereka adalah dua orang yang disatukan dengan tujuan yang sama. Berbeda dengan keluarga yang disatukan oleh darah (like it or not they are your family), pernikahan dilakukan atas dasar pilihan. Atas dasar 'keyakinan' bahwa orang yang dinikahinya adalah orang yang dapat diajak bekerja sama untuk mencapai tujuan. 
Ambisi yang ada adalah ambisi berdua, bukan hanya ambisi pribadi. Karena jika ambisi pribadi yang terjadi, maka salah satu pihak akan tertekan. Dan itu bukanlah landasan keluarga yang baik. Sebagai partner, maka mereka berbagi segala hal untuk menguatkan 'team' mereka. Baik susah maupun senang. Jadi, jika anda masih menyimpan kesusahan sendiri dengan dalih pasangan anda tidak perlu tahu, well...apa gunanya berpasangan? Itu sama saja dengan hidup 'bersama-sama' bukan hidup bersama. 
Menurut saya seperti itu. Tapi tahu apalah saya, menikah saja belum, menemukan yang diajak berkeluarga saja masih belum nemu-nemu. So, kalau anda tidak setuju dengan pendapat saya diatas, itu sama sekali tidak masalah. Wong itu pendapat amatiran.

Tapi  saya bukan mau menulis mengenai itu, saya mau bercerita, tentang sepasang kenalan, yang menurut saya menganut sebuah prinsip yang kurang lebih mirip dengan yang saya sebutkan diatas.

Sebut saja nama pasangan ini Joni dan Ani. Joni merupakan wirausahawan... mmm.. bukan ... lebih tepat disebut dengan pekerja serabutan profesional. Apapun bisa dia kerjakan. Untuk pekerjaan utama, Joni memilih sebagai desainer Interior, pekerjaan sampingan adalah EO, kontraktor, pembuat furniture, dan juga pedagang material. Joni dan Ani bertemu di fakultas arsitektur, ketika mereka berdua kuliah. Jadi saat ini, Ani membantu Joni dalam pekerjaan desainer interior. 
Kemarin saya bertemu dengan pasangan ini, setelah ngobrol panjang lebar, masuklah satu isu, yaitu perhelatan pernikahan. Dan mulailah Joni bercerita.

Setelah lulus kuliah, Joni berkata pada Ani, yang saat itu adalah kekasihnya :

" Ani, keluargaku adalah keluarga sederhana. AKu tidak punya uang, tidak bekerja sebagai pegawai yang punya penghasilan tetap. Aku akan benar-benar memulai hidup dari 0. Tetapi aku ingin menjadikanmu pasangan hidupku untuk selamanya. "

"Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga yang aku bisa, untuk memberikan pernikahan yang layak untukmu. Maukah kau menungguku?"

Karena cinta dan kepercayaannya pada sang kekasih, Ani menyanggupi.
3 tahun Joni berjuang untuk mengumpulkan biaya pernikahan mereka. Dan sesuai dengan janji, Joni menggelar pernikahan, yang walaupun sederhana, tetapi direncanakan dengan baik. Keluarga Ani pun puas. Setelah perhelatan pernikahan selesai, mereka bulan madu seminggu di Bali. Sekembalinya dari bulan madu, tibalah mereka di rumah kontrakan mereka yang pertama. Ukuran 8x3 m2. Tanpa perabotan sama sekali. Hanya kasur, tanpa tempat tidurnya. Tetapi Joni dan Ani bahagia. Ani bahagia karena Joni menepati janjinya, Joni bahagia, karena dia membuktikan bahwa dia lelaki yang bisa diandalkan dan bertanggung jawab. Lunas sudah janjinya pada Ani. Dan mereka pun memulai kehidupan sebagai pasangan dengan perasaan lega dan bangga.

Joni dan Ani saat ini mempunyai dua orang anak. Kontrakan sudah lama ditinggalkan, mereka sudah punya rumah mungil yang manis. Sudah punya mobil pribadi dan sudah tidak perlu tidur di atas kasur tanpa tempat tidur karena springbed empuk sudah tersedia.
Mereka tetap sederhana, dan ketika Joni menceritakan hal ini pada saya. Ani memandangnya dengan bangga dan penuh rasa cinta.

Rasanya saya tidak akan melupakan tatapan Ani saat itu :)

Alasan saya menceritakan ini, adalah saya mendengar cerita teman-teman yang menjadi konsultan lepasan. Ada yang berhasil, ada yang kesulitan. Dan itu pula yang membuat mereka terkadang ragu, apakah bisa mendapatkan pasangan hidup yang bersedia menerima apa adanya. Jika apa adanya, saya yakin pasti sulit. Tetapi jika meminta mereka menjadi bagian dari team, sebagai pasangan yang bersama mencapai tujuan bersama dan membuktikan bahwa ucapan mereka patut dipertanggung jawabkan dan melakukan hal yang sama dengan Joni, saya yakin, pasangan yang tepat akan bersedia.

Niat dan keyakinan, serta usaha keras untuk menjadi lebih baik. Itu kualitas seorang kepala keluarga yang akan bekerja dengan segala daya upaya untuk menjaga keluarganya. Suatu nilai yang dapat dilihat setiap wanita.

Sekali lagi, pernikahan adalah masalah keyakinan. Jika sudah yakin, lakukanlah. Sebagai pasangan, dan bukan sebagai pribadi. Karena pernikahan itu dijalani berdua, bukan hanya sendiri. Entahlah...ini saya...menurut anda sendiri bagaimana? :)


***

Sunday, February 24, 2013

Waktu dan Kata

Andaikan tulisan ini bisa dibaca sembari mendengarkan suatu lagu, akan kuminta siapapun yang membaca tulisan ini untuk mendengarkan lagu berikut :

Boyzone - Give it All Away






Alasan aku ingin menulis, hanya karena membaca sekilas status seorang teman :

A friend of mine ask "what is your life for..?" My answer is "since life is about give and get something, all I can say that my life is forgive and forget.." - Karel Alle

Membaca deretan kata itu, seakan melihat sekoci di tengah lautan atlantik setelah terlalu lelah untuk menahan beban tubuh supaya tetap mengapung.
Dua kata Forgive and Forget, yang menggamit anganku dan mendorong jemariku untuk menuliskan kata-kata selanjutnya.

Forgive.
Forgive yourself, because you merely human. 
Who had flaw.
Who hurt and being hurt.
Who made mistake. 
Even though you never meant to harm.
What is done is done.
There is nothing you can do to make it the otherwise.

Forget.
Life goes on.
Time keep going.
Look at the stars and the sun.
It still there when you were looking behind.
Turn your head around.
Stop looking over your shoulder.
Its time to move on.

Forgive and Forget.
Two words to save one's soul.

 ***


Saturday, February 16, 2013

A Reply to Little Missy - Kata tentang Cinta

Kamis, 14 February 2013. 



Hawa dalam ruangan terasa dingin menggigil. Agaknya pengelola gedung lupa, bahwa cuaca di luar sedang hujan dan membuat suhu turun. Alhasil, manusia-manusia yang terjebak didalam ruangan ini lebih sibuk menghangatkan diri dibandingkan mendengarkan paparan pembicara di depan ruangan.

Karena konsentrasi sudah terlanjur terpecah, iseng kuraih HP yang tergeletak di meja. Ada mention di twitter, kubuka, dan kubaca. Tersenyum melihat sebuah kejutan dari little missy di Manado. So sweet of her to write the letter. And so thus, i shall reply with lots of love ....


Dear Missy,

Kenapa aku memanggilmu Missy? Well, karena aku bisa membayangkan, suatu waktu, kau mungkin adalah reinkarnasi dari seorang gadis bangsawan di suatu negara America Latin. Menggunakan celana berkuda, karena kau benci memakai rok yang membatasi gerakmu, sibuk melahap buku-buku di perpustakaan ayahmu. Ibumu sudah angkat tangan dengan segala penolakanmu untuk dijodohkan dengan Lord-lord itu, dengan dalih untuk mencarikan pasangan yang 'layak' untukmu dan usia yang sudah pantas untuk bersanding di pelaminan. Kau membenci ketika tamu-tamu ayahmu lebih banyak bercakap-cakap dengan saudara-saudara lelakimu  dibandingkan denganmu. Dan ketika kau menyampaikan pendapatmu, mereka mengernyit, serasa melihat seekor kijang melompat ke arah kerumunan singa.

Well, itu imajinasiku :)


Pertanyaanmu pertama dalam surat itu, terkait dengan cinta. 

Cinta, bukan hanya sekedar sebuah status formal diantara kedua manusia. Satu kata itu, tidak akan mampu dijabarkan oleh pujangga  maupun filosof manapun dengan tepat dan pantas. Satu kata itu, hanya bisa dirasakan dan dialami. Tidak ada cara lain.

Dulu, ketika aku masih mencari-cari cinta. Aku selalu penasaran, ingin tahu, apa itu cinta. Aku mencoba merasa, membaca, memahami, mendengar, melihat dan mencari. Menebak...apakah ini cinta.
Satu datang kemudian pergi. Satu hilang dan kemudian terganti. Sampai satu waktu, dia datang.

Aku masih ingat ketika pertama kali melihatnya, duduk dengan alis tertaut. Diam, tanpa banyak kata. Sikap tubuhnya penuh dengan penolakan terhadap dunia. Bersidekap, duduk sambil mendengarkan diskusi kami kala itu.
Sudah tahunan berlalu, tapi gambaran itu masih saja lekat dalam benakku.

Pertemuan pertama kami, saat aku baru kehilangan apa yang kuanggap cinta, dan sedang dekat dengan sebuah apa yang kuanggap cinta. Sampai suatu saat, ada yang iseng mengirimkanku sebuah pertanyaan dalam email :

" tuliskan tiga nama orang yang kamu cinta, dan lihat seberapa besar prosentasemu untuk dapat bersamanya. "

Dan aku menuliskan namanya, lengkap, dalam tiga slot yang berbeda. Dan aku terhenyak..

Perlahan aku teralihkan, sibuk dengan cintaku yang baru dan melupakannya.
Sampai kemudian cinta baru itu pun berlalu, dan kuputuskan cara yang paling mudah untuk memperbaiki patah hati adalah dengan pergi.

Aku pun pergi, dan selama aku pergi, hubungan kami semakin dekat. Ini sungguh aneh, karena  aku dan dia seperti bumi dan langit. Dia tidak mungkin menyukai orang sepertiku, walau aku tertarik dengannya sejak pandangan pertama.

Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh liku...kami bersama. Dan ternyata tidak berhenti disana, banyak hal terjadi, seringkali kami saling menyakiti. Entah sudah seberapa banyak air mata yang keluar, pertengkaran yang terjadi. Namun, begitu pula tawa, kenangan indah dan juga pengalaman yang menyunggingkan senyum. Kehangatan keluarganya, senyum hangatnya, perhatiannya, kekhawatirannya, perjalanan bersama yang membuatku merajut mimpi. Sayang, mimpi itu hanya milikku sendiri...
Dia lelah, aku lelah. Segalanya terlalu berat untuk kami berdua.

Kami sudah berpisah, tetapi tidak seperti apa yang kuanggap cinta, ini sungguh berbeda..sangat berbeda. Manusia ini, berhasil masuk lebih dari yang kuharapkan didalam benak dan hatiku. Dan jejak yang dia tinggalkan, terasa sakit namun tidak mampu kuhapuskan. Jika seorang lelaki dapat merasa bangga atas hal yang dapat dia lakukan terhadap seorang wanita, dia dapat bangga untuk hal ini. Dia dapat memegang kunci hatiku, membukanya, kemudian melepaskannya.

A woman's heart is deepest than the ocean.
Secret, makes a woman woman.  

But life's goes on.
Waktu tidak akan menunggu. Jadi aku pun terus maju, berjalan dan memahami bahwa apa yang telah terjadi tetap terjadi. Masih banyak mimpi yang harus diraih, perjuangan yang tak kenal henti.

Begitulah kataku mengenai cinta, yang kubagikan kepada seorang wanita yang sedang dalam perjalanannya menemukan cinta.
Kuberharap, ketika kau menemukannya, cinta akan tetap tinggal.
Karena dalam suatu hubungan apapun, haruslah berjalan dua pihak, tidak bisa hanya satu pihak yang mengusahakan. Hubungan yang berjalan satu arah adalah hubungan yang timpang dan dapat membunuh. Cepat ataupun lambat.

Senang juga bisa mengenalmu Missy, terimakasih karena telah hadir dalam hidupku.
Nikmati saja setiap perjalanan, karena hidup ini seperti perjalanan dalam kereta tanpa rute balik. Nikmati saat pagi, siang dan malam. Karena ketika kereta ini sampai di tujuan terakhirnya, tidak ada kesempatan lagi untuk kembali.

Jadi, Happy Valentine Day.
mari kita hadapi hari ini dengan senyum ;)


***


 

Saturday, January 19, 2013

What Makes Us Human

pict. source : http://ibrhmnzim.blogspot.com/2012/03/love-will-keep-us-alive-by-eagles.html


What's so special and the most precious thing a human could have?
Is not the brain.
A brain is easily substitute by a computer program.

Is not the look.
Any plastic surgery and a puppeteer could create a perfect look that no one able to deny.

Is not the physical strength.
Any machine is able to defeat and offer strength that would crush the hardest surface.

It is the soul, the heart.

When you act beyond your logic.
When you able to love and hate.
When you cry when you are happy.
When you shaking while you are kissed.
When you longing and dreaming.
When you are surviving and hoping.

For that soul...
Is what makes a human, human...





Note:
Someday, human will be extinct.
Someday, all of us will be gone..
hope when that day come, this 'script' will be understood and makes us human as one of a great creature.

Saturday, December 8, 2012

Darkness of Human

I've seen death so many times
Too many times
It lurks within every human soul
waited to be release
and grab their soul
back to where it belongs

I've seen people I care going away
Taken or left out
They have their own reason to be
So let it be

Every person have their journey
Every moment have their remarks
So why does it has to be different

It is not the matter of why
It is only the matter of how
and may God have mercy
To let the answer reveal upon me

This time no breath is longer than it should
Its getting dimmer and dimmer
and the light is fading
Maybe its time to sleep now

Floating in a midnight sky
with no purpose why
None understand
nor accepting
one soul is being lost in space

I am lost

Tuesday, September 18, 2012

Kala Waktu Membeku

Nina melihat pergelangan tangannya, angka menunjuk waktu 9.15, sudah 15 menit dia menunggu. Tidak biasanya Bima terlambat menjemputnya. Bandara tampak ramai, pagi hari senin memang waktu yang seakan-akan tak pernah surut akan keriuhan manusia. Nina bersandar di sandaran kursi biru di deretan tempat pengantar. Banyak orang lalu lalang di hadapannya, mata Nina menatap nanar, dia tidak berusaha mencari. Entah kenapa dia sudah merasa malas. Diliriknya HP nokia merah dalam tasnya, tidak ada pesan baru ataupun panggilan masuk. Entah sudah berapa kali dia menelpon Bima, tetapi nomor yang dituju tidak aktif. Nina mendesah pelan, tanpa sadar bibirnya dicibirkan ke depan.

5 menit lagi, kalau anak jelek itu tidak menampakkan batang hidungnya, aku pulang sendiri naik bis, batin Nina.

***

Pukul 09.00, Bima cepat-cepat memarkir motornya. Schedule yang diberikan Nina jam 09.00 tepat pesawat mendarat. Waktu boarding tadi dia sudah meminta Nina untuk mengirim pesan padanya, sekedar memastikan keberangkatan tepat waktu atau tidak. Keberangkatan sudah tepat, sehingga seharusnya saat ini Nina sudah turun dari pesawat. Sesampai di area kedatangan..langkahnya terhenti...bahkan dari jarak sejauh ini dia bisa mengenali Nina. Rambutnya yang sebahu di jepit kebelakang, sejumput rambut liar menutupi sebelah daun telinganya. Dengan ransel kecil dan sambil menenteng sebuah bungkusan, gadis mungil itu berjalan menuju pintu keluar. Entah kenapa, Bima cepat-cepat menyembunyikan diri. Dia tidak ingin gadis itu melihatnya, bergegas dimatikan ponselnya dan dia mencari posisi duduk di sebuah cafe dimana dia bisa mengamati gerak gerik gadis itu tanpa terlihat olehnya. Sungguh Bima tidak bisa menjelaskan mengapa dia bertingkah seaneh itu, dia hanya merasa, hal itu perlu dia lakukan. Dalam kejauhan Bima melihat kegelisahan Nina, tapi entah kenapa dia menikmatinya.

Saat-saat itu, adalah saat-saat dimana Bima dapat menatap Nina dengan tatapan yang selama ini dia sembunyikan, tatapan yang tak akan pernah ia keluarkan ketika bersama dengan Nina. Ketika dia harus memainkan peran sahabat yang baik, sahabat yang selalu ada, yang mengejek, bercanda dan tertawa bersama...hanya itu...tidak lebih.

Bima memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Nina, caranya memainkan kacamatanya, kebingungannya mencari tempat duduk,  raut kesalnya karena nomer yang ia tekan tidak aktif, semuanya...sekecil apapun itu, Bima merekam semuanya dalam hati. 15 menit saja, kamu milikku seutuhnya...desah Bima pelan.

***

OST : Inginku by Yovie and Nuno