Tuesday, March 6, 2012

Sebuah pengantar

Bima mengintip dari balik celah pintu, gadis itu bersandar di tempat tidurnya, matanya menatap nanar keluar jendela memandangi langit biru yang memamerkan keindahan dan cerahnya hari. Sesekali angin berhembus masuk, helai-helai rambut gadis itu turut menari..indah. Bima masih berdiri, kakinya ragu untuk melangkah masuk. Gadis itu pun tampak tak menyadari ada sesosok manusia yang hadir disana. Cairan infus menetes pelan, baru diganti sepertinya, batin Bima, karena semalam botol itu bukan berwarna merah.

Gadis itu menghela napas, tiba-tiba kepalanya berpaling ke arah pintu. Entah refleks apa yang membuat Bima meloncat mundur, dia tiba-tiba tidak ingin terlihat. Pelan-pelan dia melangkah mundur, takut bahwa langkah kakinya terdengar. Dia putuskan untuk kembali pulang ke rumah, toh gadis itu, yang bernama Nina, tidak tahu bahwa dia disana.

Sesampainya di parkiran motor, Bima tercenung. Teringat dia betapa sedihnya Nina saat menatap keluar. Sebagai seseorang yang mengenal Nina begitu baik, dia tahu pasti bahwa Nina pasti luar biasa bosan berada di tempat itu. Tangannya bergegas mencari-cari di dalam saku. Ditariknya keluar sebuah telepon genggam. Ditekannya angka 9. Sebuah nama dan foto terpampang, foto Nina tertawa dengan dua jari ala Jepang, pose kesukaannya.

"Bunciiiisss! Kok ga kesini?"

Bima tersenyum

" Gak ah, males kesana, mending jalan-jalan, segerrrr "

Hening...

"Curang...aku ga bisa ikut.."
"Eh, sapa bilang? Kamu mau kemana?"
"Heh? mmm..kemana ya..pengen jalan-jalan aja"
"Aku mau makan lotek sagan sambil minum es pisang ijo, mau ikut ga?"
"Buncis jahat...gimana caranya..kamu kan tau.."
"Ssst..berisik ah..aku kan nanya, kamu mau ikut ga? Jawab mau apa gak aja panjang amat"
" Mau...."
"Yawda, pegangan ya"
"Hah? Kamu lagi ngapain? Kok kresek2 suaranya?"
" Mau ngajak kamu jalan-jalan. Pegangan ya, ni aku dah jalan"
"Jalan?? Naik motor?? Kok bisa masih ngobrol?? Bukannya handsfreemu ilang??"
" Emang masi ilang" Bima setengah berteriak, dia tahu kondisi seperti ini konsentrasinya harus berlipat dua apalagi lalu lintas lumayan ramai.
" Kok bisa?? Wuaaaaa..!! Seruuuu!! itu suara angin ya, rame cis jalanan?" suara Nina terdengar gembira. Bima bisa membayangkan wajah gadis itu saat ini, pasti sedang tersenyum besar sekali.
"Bisa donk, aku jepit di helm, agak sempit tapi masih bisa kok"
"Bima gilaaaa!! Hahahahaha...Seruuuu!!"

Aah..betapa Bima sangat bahagia mendengar tawa gadis itu. Sambil mengendarai motor dia lalu bercerita mengenai apa saja yang dilihatnya. Nina mendengarkan sambil sesekali menimpali. Bima bahkan bisa merasakan tangan gadis itu di pinggangnya. Andai saja dia bisa membawa Nina pergi saat ini, apapun akan dia lakukan untuk bisa mewujudkan itu.


----------------------------------------****-------------------------------------------------

Sunday, February 5, 2012

Refresh your mind, refresh your soul



February, 2012

Setelah berjibaku dengan segala rutinitas, akhirnya saya memutuskan, saatnya untuk melakukan petualangan kecil untuk meredakan ke-hectic-an pikiran.
Sebenarnya perjalanan ini sudah direncanakan lama, namun dengan berbagai pertimbangan seperti ini harus ikut, waktu yang terlalu mepet, serta segala tetek bengek tidak penting lainnya, perjalanan ini selalu tertunda. Akhirnya kuputuskan, Now or Never! Kalau ga ada yang nemenin pun, sok atuh, berangkat aja, hajar bleh. Dan...finally..perjalanan ke Kebun Raya Bogor pun dimulai.

Jam 6 pagi, setelah semalaman menyiapkan ransel, kostum dan juga sarapan dulu (persiapan perut penting biar perjalanan nyaman) aku berangkat ke Stasiun Gambir. Rencana memang ingin naik kereta ke Bogor. Selain karena belum pernah naik KRL Commuter (pengen ngerasain) juga biar dapet sensasi yang berbeda, karena akan ada perjalanan pagi dari kos ke stasiun.

Perjalanan pagi lancar, lalu lintas jakarta bersahabat. Naik P20 dari lebak bulus, sampailah di Gambir. Sambil menunggu kedatangan teman, Dian, saya pun mengisi perut (lagi) dengan roti dan air putih *) . Tujuan sebenarnya lebih ke mencari tempat duduk, jadi cari tempat yang comfort aja. Setelah yang dinanti datang, langsung beli tiket KRL. Murah! Cuma 7 ribu rupiah. Langsung saja, kami berdua menunggu di peron. Hari Minggu itu tidak terlalu ramai, dan para pengunjung juga bermacam-macam. Dari keluarga yang hendak jalanjalan, pengendara sepeda, sekelompok mahasiswa..hmmm..tampaknya bukan hanya kami berdua yang ingin bersenang-senang hari itu.

Ketika kereta datang, kami mengambil kereta paling ujung. Ternyata itu adalah kereta khusus wanita. Ada penjaganya juga, jadi ketika ada seseorang berkelamin non-wanita, langsung disuruh pindah.
Saya pribadi melihat kereta ini sebagai kereta ibu dan anak saking banyaknya bayi disana.
Still, keretanya nyaman. Kursinya empuk, bersih, dan dingin. Saya yang merasa kurang tidur langsung mengantuk. Perjalanan kereta memakan waktu kurang lebih1,5 jam.



Sampainya di Bogor (Dian yang baik membangunkan saya), saya langsung semangat 45. Okeh! Kemana arah kita melangkah? Saya putuskan bahwa Istana Bogor menjadi tujuan pertama. Keluar dari stasiun, kami berdua naik becak ke Istana Bogor. Seturunnya di Istana Bogor, sekeliling tepat itu dipenuhi oleh keluarga-keluarga dengan anak kecil mereka yang beramai-ramai memberi makan rusa. Saya dan Dian juga tidak mau kalah, setelah membeli wortel dan kangkung (seribu rupiah satu ikatnya) saya (berebutan sama anak kecil sebelah) mulai memberi makan rusa. Kalau dari desain, sepertinya rusa-rusa itu tidak seharusnya terlalu dekat dengan pagar karena ada got/selokan air yang cukup lebar menghalangi pagar dengan tempat rusa-rusa itu ada. Tapi entah memang disengaja atau tidak, selokan itu kering, dan rusa-rusa itu pun dengan jinaknya bisa makan dari tangan kami.


Setelah puas memberi makan rusa, waktunya untuk menikmati makanan khas kota Bogor. Dian yang sudah kelaparan, akhirnya mengajak berkeliling untuk mencari mangsa. Pilihan jatuh di Soto Mie Bogor depan gedung Kejaksaan Bogor. Harga satu porsinya 7ribu rupiah saja. Kenyang!
Perut sudah terisi, waktunya berjalan kaki keliling kota, tujuan selanjutnya adalah Kebun Raya Bogor. Bermodalkan tampang lempeng dan tanya kanan kiri, sampai juga kami di Kebun Raya Bogor. Cuaca sangat bersahabat hari itu, terang dan cerah sekali. Harga tiket masuk cukup 10ribu rupiah sahaja. Pengunjung Kebun Raya cukup padat, tetapi tidak terlalu padat sehingga masih nyaman untuk menikmati suasana. BEgitu masuk, kami diserang dengan serbuan oksigen dari ribuan pohon yang tumbuh di sana. Seketika paru-paru saya kegirangan, sungguh, suasananya sangat menyenangkan! Hijau dimana-mana, udara bersih, bahkan suara kendaraan pun teredam. Saya betah sekali!Burung-burung dan binatang-binatang kecil bebas berkeliaran. Ini benar-benar surga...
Sambil tiduran di rumput, memeluk pohon, oh iya..saya benar-benar kayak anak hutan ketemu induknya, cuek aja dengan tatapan aneh pengunjung lainnya.

Sambil menikmati udara dan juga pemandangan yang sangat menyegarkan itu, saya berkhayal andai saja di Jakarta ada tempat seperti itu. Memang ada Ragunan yang juga banyak pohonnya (thanks God), tetapi dibandingkan Kebun Raya Bogor, Ragunan belum ada apa-apanya. KEnapa ya orang-orang kaya Jakarta gak patungan aja beli tanah, kemudian kita bangun bersama untuk hutan kota. Saya yakin banyak yang mau jadi donatur. Jadi untuk cari oksigen bersih kita gak perlu jauh-jauh ke Bogor. Low Carbon footprint donk!

Tiga setengah jam kami habiskan di sana. Puas deh jalan-jalannya, ke Museum zoologi, liat bunga bangkai yang sudah kuncup, taman anggrek, monumen Lady Raffless, Istana Bogor, tidak terasa perut sudah mulai protes lagi. Jadi sekarang adalah mencari makan! Yups, this traveling selain jalan kaki dan menikmati alam tujuannya adalah Wisata Kuliner saudara-saudara. Harap maklum.

Karena memang tidak menggunakan rencana apa-apa, hanya berdasarkan spontanitas dan mengikuti arah kaki melangkah. Kami menyusuri Pasar Bogor. Banyak buah-buah yang saya belum pernah lihat sebelumnya, belum lagi dengan bunga-bunga potong yang tertata apik di pinggir jalan. Sayangnya, jalanan sangat padat dengan kendaraan jadi agak kurang nyaman kalau jalan kaki. Akhirnya ketemu dengan mini food court tradisional. Saya pesan...mmmm...laksa Bogor satu dan cakwe. Dian pesan toge gorang dan risol. Lumayan, harganya semua dibawah 10ribu. Bogor murah cyiiin!

Setelah terisi, saya teringat ada tempat makanan enak dan comfort di Bogor. Namanya Pia Apple Pie. Tempatnya inget, tapi alamatnya wala hualam. Sebelum pusing dengan pencarian tempat, saya ajak Dian beli Asinan Bogor dulu di Gedong Dalam. Dari sana, mulailah pencarian alamat. Berbekal BB dengan mbah google-nya yang maha sakti, kami dapatkan alamatnya. tapi kesananya bagaimana? Bogor ga ada taksi, jadi jalan satu-satunya adalah naik angkot. Daaaan, ternyata...jalur di bogor cukup ajaib. Saking banyaknya angkot, dan karena buta arah juga, kami berdua 5 kali naik turun angkot. Karena kesel dan udah mulai sore, ditambah mendung sudah menggelayut di langit, saya telpon tempat penjualannya. Dibantu arah-arahan dari sang penjual, kami sampai juga di tempat tujuan (yang ternyata kami cuma muter-muter aja di tempat yang sama dari tadi). Dan kelelahan kami terbayar lunas, sepiring Apple Pie hangat, ditambah wedang Bajigur menemani sore yang dingin.

Bogor memang mengagumkan. Setelah puas berjalan-jalan, kami pun berpamitan dengan kota Oksigen ini. Kami berdua kembali ke Jakarta, kembali ke udara polusi, gersang dan rutinitas sehari-hari.
Tapi tidak mengapa, Bogor hanya 1,5 jam saja. Dan kapanpun kami mau, kami bisa selalu kembali kesana. Total biaya yang saya keluarkan pun sangat-amat-sedikit. A really low budget travelling. Thank you Bogor, kau membuat jiwa dan pikiranku sehat kembali dengan oksigen, pohon dan rusa-rusamu.
Sampai bersua kembali, dan terima kasih atas kenangan ini :)



*) catatan penting buat wanderer, selalu pesan air putih di botol. Selain bisa dibawa kalau tidak habis, akan menjadi bekal di perjalanan.

Sunday, January 8, 2012

Just because

I know how it feel
To dance in the rain, as it can deceive people from tears that runs through my eyes
To cried for help and no one seems to listen
To give a smile so that no one would asking question
To stand out tall so the one i care about could have someone to hang on to
To wondering why it feels hollow inside when its not supposed to be
To understand others while not being understood
To asking question and searching for answer
To lose everything and lived as a survivor

Because and just because...
I know how it feel

Thursday, December 29, 2011

A thousand years of friendship


Hari ini, 29 Desember 2011, akhirnya setelah bertahun-tahun tak bertemu, aku bisa menemui sahabat-sahabatku kuliah secara langsung.

Sayang sekali, tidak semua bisa hadir, tetapi tentunya momen ini sungguh sangat aku nantikan.
Kami, melalui begitu banyak jalan yang berliku, sempat terpisah di tengah jalan, tetapi entah bagaimana, akhirnya kami menemukan jalan untuk bersama lagi.

Sebenarnya, apa itu persahabatan?
Bagiku persahabatan itu dapat dijabarkan sebagai berikut :

Seorang sahabat adalah seseorang yang mengenal dirimu, apa adanya, dan tetap mau menjadi temanmu.

Seorang sahabat akan melalui proses hidup denganmu, dia bukan orang yang sempurna, tetapi dia seseorang yang setia.

Seorang sahabat dapat melihat, mendengar dan berbicara di waktu yang tepat, suatu insting dan naluri alami yang tidak bisa diajarkan.

Seorang sahabat memiliki tempat yang spesial, tidak peduli berapa lama mereka pergi, ketika mereka kembali..selalu saja dapat diterima dan masuk dalam ruang hatimu.

Seorang sahabat akan berbagi tawa dan tangis, menerima keputusasaan dan kemarahanmu, bersedia memberi ruang untukmu menyendiri dan menamparmu ketika kau terlena.

Seorang sahabat dapat berjalan di sampingmu sebagai rekan, dibelakang untuk menjagamu, tetapi tidak pernah di depanmu untuk meninggalkanmu sendiri.

" Dan jika seorang sahabat meninggalkanmu...percayalah...seorang sahabat akan selalu kembali...dan saat itulah kau tahu, bahwa dia adalah seorang sahabat sejati "


Untukmu sahabat-sahabatku...terimakasih untuk setiap waktu yang kau curahkan untukku.

Aku tidak bisa menjanjikan masa depan, tetapi untuk saat ini...saat ini, akan kubagi tawa, tangis dan seluruh jiwaku bersamamu.



yogyakarta, 29122011 - suatu akhir tahun yang sangat mengesankan

Monday, May 23, 2011

Top 10 Hits Lagu Galau

*terinspirasi dari blog tuanputriburukrupa

Setelah membaca blog adik kecilku tercinta, jadi terinspirasi untuk membuat sebuah list lagu serupa. Adapun list ini dikhususkan untuk para manusia di luar sana yang sedang merasa dunia tak lagi sama, sebuah list lagu yang menggambarkan bahwa terkadang hidup ini dapat membuat suatu lubang besar yang kita tak akan pernah tahu kapan akan tertutup.

Dan lagu-lagu ini pun diputar seperti suatu rapalan mantra, mengharapkan suatu pelipur lara yang seakan tak kunjung tiba.
Bagi siapapun yang membaca tulisan ini, dan sedang merasakan hal yang sama, semoga lagu-lagu ini dapat membantu meringankan langkahmu.

10. Sting - When We Dance
Liriknya bagus, dalam dan menohok...manis tapi ga enek..pokoknya suka lah

9. Wet wet wet - Julia says
Lagu yang super duper jadul..sudah suka semenjak di SD *anak kecil yang aneh*

8. Adrian Martadinata - Ajari Aku
Berawal dari iklan Po***, dengan background gitar akustik yang super duper keren, dipadu dengan lirik yang oke, suara yang empuk. makin mantablah mendengar sambil menyeruput tissue..eh..kopi :D

7. Michael Jackson - One Day of Your Life
Untuk semua yang pernah merasakan, suatu waktu yang terasa begitu sempurna, yang tak akan mungkin dapat terulang. Suatu waktu yang akan menjadi kenangan indah selamanya. Lagu ini dengan sempurna menggambarkan hal itu.

6. Coldplay - The Scientist
Dibandingkan Yellow, aku lebih suka dengan lagu ini. Khas musik BritPop..simple, stagnan melody, mellow, terkesan berat dan sedih..even desperate...but i like it..

5. Saybia - Second You Sleep
Lagu yang cucok bagi cinta yang tak berbalas, tak tersampaikan, cinta terlarang or whatever it is.. this song so suitable to describe the feeling.
PS : just hear the song and mind the video clip...*sigh*

4. The Fly - Biru
Sebuah grup band lawas yang sebenernya kurang begitu oke klipnya, better denger lagunya aja tapi jangan nonton klipnya, bikin buyar suasana.

3. Lady Antebellum - Need You Now
"guess i rather hurt than feel nothing at all"


2. Vertical Horizon - Best I Ever Had
Yup! Lagu kebangsaan waktu broken hearted..cheesy and corny yes, but it make me feel better somehow ;)


and the ultimate.....

1. Keane - Somewhere Only We Know
OST film The Lake House
Film teramat keren yang menyayat hati...membuat berkhayal bertemu jodoh dengan cara yang serupa *curcol*


" Oh simple thing, where have you gone? I'm getting old and I need something to rely on So tell me when you're gonna let me in I'm getting tired and I need somewhere to begin "








So..thats all folks..silahkan ambil tissue, bantal or boneka besar empuk, merapat di tempat tidur..dan siap melancong ke negeri galau :)

Sunday, May 15, 2011

Biru - The Fly


Kau tertawa, kau mendusta
Walau cintamu tak akan ku rasa
Kini kau pergi tinggalkan semua
Dengan asa masih tersisa


Reff I :

Masih terasa
Semua cinta yang kau ucapkan
Walau biru tak mengapa

Mungkinkah semua
Akan menghilang bersamamu
Karena hidupmu berlalu



Kau merana, kau terluka
Walau anganmu yang pernah meraja
Kini kau pergi dan takkan kembali
Dengan rasa hati tersiksa

Reff II :
Masih terasa
Semua cinta yang kau ucapkan
Walau biru tak mengapa
Mungkinkah semua
Akan menghilang bersamamu
Karena hidupmu, karena hidupmu berlalu

Bawalah indah ... cerita lalu

Yang biru ... dalam kalbu

Saturday, May 14, 2011

The Hippocampus

Satu-satu kupetakan gambaran itu
Kubingkai dengan indah diatas kanvas
kupandangi sesaat
kupastikan semuanya sempurna

Waktu berjalan cepat
Hadir dengan warnanya tersendiri
Jejak-jejak mereka yang telah pergi
Percakapan dengan mereka yang tercinta
Alunan musik
Kecupan lembut
Kekuatan untuk bertahan
Keberanian untuk berjalan
Perlindungan hangat
Gambaran slide berlalu dalam sel kelabu
begitu indah dan sempurna


Waktu yang tak dapat berulang, yang tak dapat kumiliki
kebahagiaan merupakan satu waktu sempurna
yang tak akan dapat terulang dengan cara yg sama
seperti nyala lilin di malam hari
kala rintik mengetuk kaca jendela
dan sepi menyapa

Waktu yang telah membeku
kusimpan rapi dalam kenangan
Kau, dia dan mereka
yang pernah ada dan tak akan kembali
Semuanya ada
dalam sel-sel kelabu